awal sebuah harapan
awal sebuah harapan

           Ada kalanya, harapan tidak datang dalam bentuk sesuatu yang besar.

Ia justru hadir dari hal sederhana yang sering kita anggap biasa.

            Bagi sebagian orang, singkong mungkin hanya bahan pangan sederhana. Namun bagi saya, singkong menjadi awal dari sebuah perjalanan. Dari tangan sederhana, peralatan seadanya, dan keberanian untuk mencoba, saya mulai melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata bisa memiliki nilai.

         Hingga akhirnya, saya menemukan satu cerita:

Ketika singkong menjadi harapan

Awal mula menekuni dunia perkripikan manggleng

Tahun 2016 adalah tahun di mana saya mulai  membangun usaha keripik manggleng.

Saat itu, saya tidak pernah membayangkan bahwa usaha sederhana yang dikerjakan dari rumah ini suatu hari akan berkembang dan memiliki identitas merek sendiri. Semuanya berawal dari keinginan sederhana, yaitu membantu perekonomian keluarga dengan memanfaatkan apa yang saya miliki. Tak perlu menunggu modal besar atau peralatan yang lengkap untuk saya memulai usaha,yang terpenting adalah memiliki kemauan, keberanian untuk mencoba, dan tekad untuk terus belajar.

Sebelum lanjut cerita, kenalan dulu ya. Kenalin,namaku Daryanti aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Perempuan dan laki laki. Seperti Ibu rumah tangga pada umumnya pasti mempunyai cita cita untuk ikut andil dalam membangun perekonomian keluarga menjadi lebih baik.

Sebelum aku menginjak pada usaha keripik Manggleng dan menetap sampai sekarang,berawal di tahun 2010 saya juga pernah gonta ganti usaha ,diantaranya mengemas ulang rambak dan menitipkan ke warung warung terdekat, membuat arem arem dan es lilin. Perjalanan ini hanya bertahan sampai tahun pertengahan 2013.

Kembali ke keripik manggleng,pada saat itu, usaha keripik manggleng saya belum memiliki nama atau merek. Produk yang saya jual hanya dikemas menggunakan plastik bening 03 sederhana tanpa label dan di seller dengan lilin. Meskipun tampilannya masih sangat sederhana, Alhamdulillah keripik Manggleng yang saya buat bisa laku dipasaran,karena saya menginovasikannya menjadi keripik Manggleng yang lebih renyah ketimbang keripik Manggleng yang beredar di pasaran. Yang cenderung lebih Atos.

Saat itu saya tidak punya banyak modal . Saya tidak membeli peralatan produksi baru, melainkan memanfaatkan seluruh peralatan rumah tangga yang sudah ada di dapur. Mulai dari pisau untuk mengupas dan memotong singkong, baskom untuk mencuci,ember tinggal peralatan lainnya hingga wajan besar untuk menggoreng, Semua peralatan tersebut merupakan perlengkapan sehari-hari yang digunakan untuk memasak di rumah dan wajan besar saya pinjam dari mertua. Dengan cara ini saya dapat menghemat biaya produksi sehingga modal yang sedikit dapat digunakan untuk membeli bahan baku dan kemasan

Proses penggorengan juga masih menggunakan tungku kayu bakar. Saya memperoleh kayu dari kebun,dan sebagian dari  tempat penggergajian kayu,saya ambil yang pecahan kecil sehingga harganya lebih murah. Menggoreng menggunakan tungku kayu memiliki banyak kelemahan,dari asap yg mengganggu mata serta pernafasan hingga nyala api yang kurang stabil,sehingga butuh ketelatenan untuk menjaga panas api agar suhu minyak tetap stabil. Proses yang  cukup melelahkan dibandingkan menggunakan kompor gas,pikiran saya saat itu ,namun saya tetap menjalaninya dengan penuh semangat karena saat itu tungku kayu menjadi pilihan yang paling ekonomis.

Setiap tahapan produksi saya kerjakan sendiri, mulai dari ke pasar untuk membeli bahan baku,(singkong) mengupas kulitnya, mencuci hingga bersih, mengiris, memberikan bumbu,menggoreng,mengemas hasilnya hingga proses pendistribusian agar produk sampai pada konsumen. Semua proses membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Terkadang saya harus bekerja sejak pagi hingga malam hari agar pesanan dapat selesai tepat waktu. Melelahkan? Pasti.. tapi saya tetap bersemangat menjalani nya.

Karena belum memiliki peralatan modern, kapasitas produksi saya masih sangat terbatas. Saat Itu saya hanya memproduksi sekitar 3-5 kg singkong/hari. Selain karena pesanan belum terlalu banyak,saya juga masih tahap belajar untuk melanyahkan dalam mengiris yang semuanya dilakukan dengan cara manual.

Rasa yang layak untuk di ceritakan 

Terlepas dari proses produksi selesai, tantangan berikutnya adalah menjual hasilnya. Pada tahun 2016, pemasaran secara online belum saya lakukan. Saya lebih mengandalkan penjualan secara langsung atau offline. Salah satu cara yang saya pilih adalah dengan menitipkan keripik manggleng di kantin-kantin sekolah yang berada tidak jauh dari rumah. Saya datang membawa beberapa bungkus keripik dan menawarkan kepada pengelola kantin untuk dijual dengan sistem titip jual.

Awalnya saya merasa ragu dan minder  ketika menawarkan produk kepada pemilik kantin. Ada rasa takut jika produk saya ditolak atau tidak laku. Dan benar,tidak semua kantin mau menerima produk saya,ada yang beralasan sudah banyak titipan keripik,ad yang menolak tanpa memberi alasan. Jujur,ketika menerima sebuah penolakan itu rasanya down dan sedih,namun saya tetap berusaha menawarkan di kantin sekolah lain. Syukurlah, beberapa pemilik kantin bersedia menerima titipan keripik saya. Meskipun jumlah yang dititipkan belum banyak, kesempatan tersebut menjadi langkah awal yang sangat berarti.

Selain kantin sekolah, saya juga menitipkan keripik manggleng salah satu warung sembako yang berada di dekat rumah. Saya menilai warung itu cukup strategis karena banyak masyarakat sekitar yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Bahkan warung itu menjadi  tempat kulakan untuk pedagang kecil. Saya berharap mereka juga tertarik membeli camilan yang saya produksi. Setiap 3 hari atau seminggu sekali saya mendatangi warung tersebut untuk mengecek stok, mengambil hasil penjualan, sekaligus menambah persediaan jika produk sudah habis.

Sedikit demi sedikit pelanggan mulai mengenal keripik manggleng buatan saya. Bahkan jarang sekali terjadi return untuk keripik yang saya titipkan ke kantin maupun ke warung. Setelah  pembeli yang merasa cocok dengan rasanya kembali membeli dan bahkan merekomendasikannya kepada keluarga maupun tetangga. Ada yang tetap membeli dari warung yang saya titipi,ada juga yang datang langsung ke rumah. Dari sinilah saya mulai memahami bahwa promosi dari mulut ke mulut memiliki kekuatan yang sangat besar, terutama bagi usaha kecil yang belum memiliki biaya untuk beriklan.

Dukungan serta kebutuhan keluarga juga menjadi salah satu kekuatan terbesar agar usaha ini tetap berjalan. Ketika pesanan mulai bertambah, anggota keluarga ikut membantu sebagian proses produksi maupun pengemasan. Kebersamaan tersebut membuat pekerjaan terasa lebih ringan sekaligus menjadi penyemangat untuk terus berkembang.

Memasuki tahun 2017, usaha keripik manggleng mulai menunjukkan perkembangan meskipun masih dalam skala rumahan. Jumlah pelanggan perlahan bertambah,Walaupun keuntungan yang diperoleh belum besar, saya selalu menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk dijadikan modal membeli bahan baku berikutnya. Dan sebagian besar hasil keuntungan langsung di putar untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga 

Pengalaman selama dua tahun berjualan keripik Manggleng mengajarkan saya bahwa membangun usaha bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan pelanggan. Belajar komunikasi, belajar jujur dan belajar tentang konsistensi menjaga kualitas produk. Menghadapi penjualan yang naik turun. Memberikan tantangan untuk menjadi pelajaran berharga yang membentuk mental saya sebagai seorang pelaku usaha.

Meskipun saat itu usaha saya belum memiliki merek, kemasan masih sangat sederhana, dan pemasaran hanya mengandalkan sistem titip jual di kantin sekolah serta warung sembako, saya tetap bersyukur atas setiap pencapaian yang diraih. Dari usaha kecil inilah saya mulai memahami arti kerja keras, kesabaran, dan konsistensi. 

Next,Kalau tadi aku cerita tentang tantangan di pemasaran, kali ini aku mau cerita tantangan yang nggak kalah bikin deg-degan, yaitu soal bahan baku.

Buat usaha keripik manggleng, singkong itu ibarat nyawa. Tanpa singkong, ya nggak ada yang bisa diproduksi. Masalahnya, di musim musim tertentu nggak setiap hari singkong selalu tersedia. Ada kalanya stok di para penjual mulai menipis, bahkan sampai susah sekali dicari.

         Yang paling bikin hati campur aduk adalah saat pesanan dari pelanggan sudah masuk, tapi singkongnya justru nggak ada. Rasanya bingung, cemas, sekaligus sedih. Di satu sisi ada pelanggan yang sudah menunggu, di sisi lain aku belum bisa mulai produksi karenabahan bakunya belum tersedia. Rasanya usaha yang biasanya penuh semangat tiba-tiba jadi lesu.

          Pernah beberapa kali aku harus berkeliling ke beberapa penjual hanya untuk mencari singkong yang kualitasnya masih bagus. Kadang pulang dengan hasil yang sedikit, kadang malah pulang dengan tangan kosong alias zooonk. Capek, iya. Kecewa, juga iya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya menjalankan usaha pasti selalu ada tantangannya.

          Aku juga nggak mau asal membeli singkong hanya karena sedang langka. Buatku, kualitas tetap nomor satu. Aku ingin pelanggan menerima keripik yang rasanya tetap enak, teksturnya renyah, dan kualitasnya tetap terjaga. Jadi, meskipun harus menunggu atau mencari lebih jauh, aku tetap berusaha memilih bahan baku yang terbaik.

     Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa menjalankan usaha bukan hanya soal menjual produk, tapi juga soal kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mencari solusi di setiap keadaan. Walaupun ada hari-hari yang membuat semangat turun, aku selalu percaya setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya. Selama masih mau berusaha dan tidak mudah menyerah, selalu ada harapan untuk terus melangkah dan menjaga usaha ini tetap berjalan.

Perjalanan pada tahun 2016 hingga 2017 menjadi fondasi yang sangat penting bagi perkembangan usaha keripik manggleng yang saya jalankan. Dari dapur sederhana dengan peralatan rumah tangga, dari tungku kayu yang setiap hari saya nyalakan, dan dari titipan beberapa bungkus keripik di kantin sekolah serta warung sembako, saya belajar bahwa sebuah usaha tidak dinilai dari seberapa besar modal yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar keberanian dan niat untuk memulai dan terus bertahan. Keyakinan itulah yang akhirnya menjadi bekal bagi saya untuk melangkah ke tahap berikutnya dalam mengembangkan usaha keripik manggleng hingga memiliki identitas merek.

Ketika “Royan” menjadi identitas

Alhamdulillah memasuki tahun 2018, saya mulai merasakan bahwa usaha keripik manggleng yang saya jalankan mengalami perkembangan yang cukup baik Meskipun  tergolong sebagai usaha skala rumahan dengan kapasitas produksi yang terbatas, dan hanya memakai perabotan rumah tangga,saya yakin usaha ini memiliki peluang untuk terus berkembang. 

Selama tahun 2016 hingga 2017, produk yang saya jual belum memiliki nama. Keripik manggleng hanya dikemas dalam plastik sederhana dg ketebalan 03 tanpa identitas apa pun. Banyak pelanggan yang mengenal produk saya dari rasa dan dari orang yang menjualnya, bukan dari nama produknya. Dari situlah saya mulai berpikir bahwa sudah saatnya usaha ini memiliki sebuah nama yang dapat menjadi identitas sekaligus pembeda dengan produk lain.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, pada tahun 2018 saya mulai menggunakan nama “Royan” sebagai merek usaha keripik manggleng saya. Nama Royan sendiri saya ambil dari perpaduan nama saya dan nama suami saya.

Besar harapan saya keripik Manggleng dengan brand Royan mampu mengangkat kesejahteraan keluarga.

Langkah pemberian nama ini menjadi bentuk langkah awal untuk membangun identitas usaha yang lebih profesional. Meskipun saat itu merek “Royan” belum didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), saya merasa senang karena akhirnya produk yang saya buat memiliki nama yang dapat dikenali oleh pelanggan. Sebuah nama yang jg terselip di nama kedua anakku.

Dengan adanya nama Royan, saya mulai mencetak label sederhana untuk saya letakkan  pada kemasan. Walaupun desainnya masih sangat sederhana dan jauh dari kesan keren dan modern, keberadaan label tersebut memberikan nilai tambah pada produk. Pelanggan menjadi lebih mudah mengingat nama usaha saya, 

Namun, perubahan nama tersebut tidak serta-merta mengubah kondisi usaha secara drastis. Sebagian besar penjualan masih dilakukan secara offline. Saya tetap mempertahankan sistem titip jual di kantin sekolah dan warung sembako yang selama ini telah menjadi tempat pemasaran utama. Hubungan baik dengan para pemilik warung dan penjaga kantin terus saya jaga karena mereka merupakan mitra yang ikut membantu memperkenalkan produk saya kepada masyarakat.

Selain tetap menjalankan pemasaran secara offline, saya mulai memberanikan diri mencoba cara baru untuk memasarkan produk, yaitu melalui media sosial Facebook. Dengan keterbatasan pemahaman saya dalam bersosial media,saya tetap berusaha sebaik mungkin, Awalnya saya belum begitu memahami bagaimana cara memanfaatkan Facebook sebagai media promosi. Saya memulai dg memposting/ mengunggah foto-foto sederhana hasil jepretan menggunakan telepon genggam. Foto tersebut saya lengkapi dengan keterangan singkat mengenai keripik manggleng yang saya jual, rasa yang tersedia, serta nomor yang dapat dihubungi jika ada yang ingin memesan.

Walaupun tampilannya masih sangat sederhana, saya tetap mengunggah produk dan membagikannya ke beberapa grup jual beli yang ada di Facebook. Di antaranya adalah Prambanan community dan suara Piyungan. Saya percaya bahwa konsistensi adalah salah satu kunci agar usaha dapat dikenal lebih luas. Sebagai langkah awal yg saya tawarkan sebagai bentuk promosi adalah free ongkir untuk area Cod sekitar jalan Prambanan - Piyungan. Alhamdulillah,mulai ada komentar,inbox atau chat langsung di no wa yang telah saya lampirkan. Jujur,saya bahagia sekaligus terharu,karena keberadaan keripik Manggleng mampu diterima oleh konsumen,banyak komentar baik serta tanggapan yg positif,baik dari segi segi tekstur kerenyahan dan varian rasa.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama berjualan melalui Facebook adalah ketika saya kembali dipertemukan dengan seorang tetangga lama dari Karanganyar. Sudah kurang lebih 15th tidak saling bertemu karena beliau telah menetap di Mojokerto. Saya tidak pernah menyangka bahwa sebuah unggahan sederhana di Facebook justru menjadi jalan untuk mempertemukan kami kembali.

Beliau melihat foto  keripik Manggleng Royan yang saya unggah, kemudian menghubungi saya melalui pesan pribadi. Awalnya saya lupa,karena foto profil beliau tidak menyertakan foto wajah, setelah berbincang beberapa saat,saya teringat kalau beliau adalah tetangga saat saya masih di Karanganyar. Beliau Pun tertarik untuk mencoba keripik manggleng yang saya produksi, untuk beliau pasarkan di rumah makan milik beliau.

Pesanan pertama menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan bagi saya. Rasanya luar biasa,inilah kali pertama saya menginjakkan kantor pos untuk mengirimkan produk buatan saya sendiri. Awal pemesanan belum banyak,hanya 1 kg sebagai tester,untuk menilai layak atau tidak di pasaran beliau.

Alhamdulillah beliau memberikan tanggapan yang positif serta memberikan nilai 8/10 dari segi rasa dan kemasan,ada kritik untuk kemasan agar memakai plastik dengan ukuran yang lebih tebal,agar tidak mudah melempem dan terlihat lebih menarik. Mendengar hal tersebut membuat saya semakin percaya diri untuk terus mengembangkan usaha.

Selang beberapa waktu kemudian beliau kembali melakukan pemesanan untuk kedua kalinya. Untuk pemesanan yang kedua ini,beliau memesan dalam Jumlah lebih banyak daripada pemesanan pertama.

Ongkir yang dikenakan mulai terkena volume,karena berat yang ringan tapi membutuhkan ruang yang lebih banyak. Tentu ini menjadi pertimbangan ketika keripik tekstur kerenyahan dan rasa yang enak tapi karena dengan pertimbangan tersebut Manggleng hendak dipasarkan di daerah beliau. Cukup  sedih menghadapi kenyataan tersebut. Produk saya yang sebenarnya diminati oleh pelanggan dari luar daerah karena pengiriman keripik jadi terhenti. Ongkir yang mahal menjadikan hpp keripik menjadi tinggi,sehingga harga jual pun naik,dan hal tersebut kurang bisa diterima di pasaran..

Meskipun demikian, saya tidak menyerah. Saya memahami bahwa setiap tahap perkembangan usaha pasti memiliki tantangan yang berbeda. Jika sebelumnya tantangan saya adalah mencari pelanggan, kini tantangan berikutnya adalah bagaimana agar produk dapat sampai ke luar kota dengan biaya yang lebih efisien tanpa mengurangi kualitasnya. Dan untuk saat itu saya belum menemukan solusinya. Mungkin tidak bisa untuk melanjutkan kerjasama dalam pemasaran, namun ketika beliau berkesempatan berkunjung ke daerah yogyakarta. Keripik Manggleng tetap menjadi pilihan beliau untuk oleh oleh. Jauh sebelum hari H kedatangan ke Yogyakarta beliau sudah memesan terlebih dahulu,perihal jumlah,varian rasa beserta waktu dan tempat Cod.

Pengalaman berjualan melalui Facebook juga mengajarkan saya pentingnya menjaga komunikasi dengan pelanggan. Dari Sini saya belajar cara merespon dengan baik serta belajar mengatur waktu agar tidak bentrok dengan waktu produksi. Melelahkan? Pasti.. tapi saya bahagia karena produk saya semakin dikenal dan disukai. 

Menjelang akhir tahun 2019, keripik Manggleng Royan mulai dikenal oleh lebih banyak orang dibandingkan saat awal berdiri. Sebuah usaha skala rumahan yang mulai merambah pada pemasaran online,meski masih sangat terbatas.

Perjalanan pada tahun 2018 hingga 2019 memberikan pelajaran yang sangat berharga. Saya belajar bahwa memiliki merek adalah langkah penting dalam membangun sebuah usaha. Saya juga belajar bahwa perkembangan teknologi, khususnya media sosial seperti Facebook, mampu membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Dari sebuah unggahan sederhana, saya dapat kembali terhubung dengan teman lama, memperoleh pelanggan dari luar kota, dan membuktikan bahwa produk rumahan pun memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas.

Dari pandemi, lahirlah semangat untuk beradaptasi

Memasuki tahun 2020, masa di mana pandemi COVID-19 mulai menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Dampaknya sangat terasa bagi hampir seluruh sektor usaha, termasuk UMKM kecil seperti saya. Aktivitas masyarakat menjadi terbatas, sekolah-sekolah ditutup, dan banyak toko maupun warung yang mengurangi jam operasional. Kondisi tersebut menyebabkan penjualan keripik manggleng yang selama ini mengandalkan sistem titip jual di kantin sekolah tidak hanya mengalami penurunan tapi sudah ditutup total. Sedang untuk penjualan lewat warung,masih bisa berlanjut meski orderan tidak banyak.

Pada awal pandemi, saya sempat merasa khawatir. Saya bertanya-tanya apakah usaha yang telah saya bangun dengan penuh perjuangan ini masih mampu bertahan atau justru akan berakhir. Namun keadaan ini bukanlah pilihan tapi memang harus dijalani. Justru di saat keadaan sulit seperti inilah saya harus mencari cara agar usaha tetap berjalan.

Saya mulai mengubah strategi pemasaran. Jika sebelumnya sebagian besar penjualan dilakukan secara offline, maka selama masa pandemi saya lebih fokus memanfaatkan media online. Lewat WhatsApp dan Facebook yang telah saya gunakan sejak beberapa tahun sebelumnya menjadi salah satu media utama untuk mempromosikan produk. Saya juga mulai lebih aktif membagikan foto produk serta caption pada story WhatsApp saya. Memberikan informasi mengenai varian rasa, serta melayani pemesanan melalui WhatsApp.

Meskipun penjualan secara online belum seramai saat ini, sedikit demi sedikit pelanggan mulai terbiasa melakukan pemesanan tanpa harus datang langsung. Keripik yang telah terpesan kemudian saya antar ke rumah pembeli dengan meletakkannya di luar rumah. Untuk pembayaran Ada yang meletakkan uang mereka di luar rumah ada pula yang melakukan pembayaran dengan sistem transfer.

Pandemi mengajarkan saya bahwa dunia usaha harus mampu beradaptasi dengan perubahan. Ketika penjualan offline mengalami penurunan, mau tidak mau saya harus belajar memanfaatkan teknologi sebagai sarana pemasaran. Media sosial bukan hanya tempat berbagi cerita dan wadah hiburan tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan produk saya dengan pelanggan yang berada jauh dari tempat tinggal saya,itu artinya media sosial menjadi jembatan jalan rejeki saya.

Di tengah kondisi penjualan yang belum stabil, membuat saya mempunyai banyak waktu luang karena penjualan yang menurun. Saya berpikir bahwa ada satu hal yang dapat saya lakukan untuk mempersiapkan masa depan usaha, yaitu mengurus legalitas produk. Yaitu PIRT. Dengan perizinan usaha yang lengkap akan menumbuhkan kepercayaan di tengah masyarakat.

Berbekal niat tersebut, saya mulai mencari informasi mengenai proses pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Saya mengetahui bahwa untuk memperoleh nomor PIRT terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui, salah satunya mengikuti Penyuluhan Keamanan Pangan atau yang saat itu dikenal dengan Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP).

Langkah pertama,saya mendatangi Dinas Kesehatan Sleman untuk mencari informasi tentang pirt serta mendaftar sebagai peserta penyuluhan. Kesempatan tersebut saya manfaatkan sebaik mungkin karena saya percaya bahwa ilmu yang diperoleh akan sangat berguna untuk perkembangan usaha. Selama mengikuti penyuluhan, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga kebersihan tempat produksi, sanitasi peralatan, pemilihan bahan baku yang berkualitas, proses pengolahan pangan yang aman, hingga cara pengemasan yang baik agar produk tetap higienis dan memiliki mutu yang terjaga.

Dalam berjualan, menghasilkan makanan yang enak saja belum cukup. Sebagai pelaku usaha, saya juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa produk yang dikonsumsi oleh konsumen  aman dan memenuhi standar keamanan pangan. Dari Penyuluhan semakin menambah wawasan dan pengetahuan saya bahwa kualitas sebuah produk tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari proses pembuatannya.

Setelah menyelesaikan penyuluhan dan memperoleh Sertifikat PKP, proses berikutnya adalah mendaftarkan produk untuk uji laboratorium,saat itu saya memilih untuk menitipkan produk saya  melalui puskesmas di daerah saya, Prambanan. Proses uji laboratorium membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari. Selagi menunggu hasil dari laboratorium saya juga menunggu jadwal survei atau kunjungan ke tempat produksi. Saat itu saya mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Area produksi saya bersihkan dan ditata agar memenuhi ketentuan yang telah dijelaskan selama penyuluhan. Saya berharap usaha kecil yang saya jalankan dari rumah dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Hari kunjungan akhirnya tiba. Petugas melakukan pemeriksaan terhadap proses produksi, kebersihan ruangan, penyimpanan bahan baku, buku catatan keluar masuk bahan produksi hingga cara pengemasan produk. Meskipun sempat merasa gugup, saya tetap berusaha menjelaskan seluruh proses produksi dengan jujur dan apa adanya. Saya menerima setiap masukan yang diberikan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas usaha.

Beberapa waktu kemudian, kabar yang saya tunggu akhirnya datang. Produk keripik manggleng saya dinyatakan memenuhi persyaratan dan resmi memperoleh Nomor PIRT. Dengan no PIRT 2153404012282-25 Perasaan saya saat itu sangat bahagia dan terharu. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya usaha yang saya rintis sejak tahun 2016 memiliki legalitas resmi dari pemerintah.

Bagi sebagian orang, Nomor PIRT mungkin hanya berupa deretan angka yang tercantum pada kemasan. Namun bagi saya, nomor tersebut memiliki arti yang sangat besar. Nomor PIRT menjadi bukti bahwa usaha saya telah memenuhi persyaratan izin edar  pangan sehingga mampu memberikan rasa percaya kepada konsumen.Setelah Nomor PIRT dicantumkan pada kemasan, saya mulai merasakan perubahan yang cukup signifikan. Konsumen juga merasa lebih yakin karena produk yang mereka beli telah memiliki izin edar yang jelas.

Saya semakin memahami bahwa legalitas bukan hanya sekedar memenuhi persyaratan administrasi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang khususnya 5 tahun ke depan bagi perkembangan usaha. Legalitas membuka lebih banyak peluang untuk memperluas pemasaran dan mengikuti berbagai program pembinaan dari pemerintah.

Belajar dan Bertumbuh Bersama FORKOM

Di pertengahan Tahun 2021 saya mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan UMKM. Salah satunya adalah bergabung dalam Forum Komunikasi UMKM (Forkom). Melalui organisasi tersebut, saya dapat bertemu dengan banyak pelaku usaha dari berbagai bidang. Kami saling berbagi pengalaman, bertukar informasi, serta memberikan semangat satu sama lain dalam mengembangkan usaha.

Tidak lama setelah bergabung, saya memperoleh kesempatan yang menarik. Saya diberi kepercayaan untuk menjadi kordus UMKM. Pelatihan demi pelatihan yang diselenggarakan oleh kelurahan maupun dari suara aspirasi DPRD saya antusias dan semangat untuk mengikutinya. 

Masih ditahun yg sama, kelurahan Sumberharjo mempunyai program desa preneur,di mana dalam program tersebut para UMKM di ajak untuk maju dan mandiri. Dalam pelatihan di program desa preneur menghadirkan para mentor hebat dari satoeasa official. Pelatihan yang dilanjutkan dengan pendampingan di setiap minggunya dari tahun 2021 hingga tahun 2022. Bagi saya, kesempatan tersebut merupakan sebuah "sekolah bisnis" yang memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana membangun usaha secara lebih profesional.

Mentor yang menjadi pendamping pelatihan saat itu,adalah kak Hesty. Dalam setiap sesi pendampingan, kami tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak berdiskusi serta praktek langsung mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing pelaku usaha. Kami bebas menyampaikan kendala yang dialami, mulai dari proses produksi, pemasaran, pengemasan, pengelolaan keuangan,foto produk hingga cara menghadapi persaingan usaha. Kak hesty selaku mentor selalu memberikan solusi dan masukan yang membangun sehingga saya semakin memahami bagaimana menjalankan usaha dengan lebih baik.

Kali pertama saya di beri materi tentang pengelolaan keuangan menggunakan aplikasi Buku Warung. Dari situ kami diajarkan untuk memilah uang pribadi dan uang hasil usaha. Setelah ikut pelatihan, aku jadi belajar cara mencatat pemasukan, pengeluaran, utang pelanggan, sampai menghitung keuntungan dengan lebih rapi lewat aplikasi. Dari situ aku jadi lebih paham kondisi usaha dan bisa tahu apakah penjualan bulan ini naik atau malah turun. Dan ternyata terkadang minus.

Selain itu, kami juga diajarkan promosi lewat media sosial seperti TikTok dan Instagram. Dan tiktok yang saya pakai sekarang adalah buatan dari hasil pendampingan desa preneur.Di pelatihan ini kami belajar kalau sekarang jualan bukan cuma soal produknya enak, tapi juga bagaimana cara mengenalkan produk ke banyak orang. Kami diajari membuat konten yang menarik, bila memang masih kurang PD untuk menampilkan wajah,kita di ajarkan untuk edit foto ataupun vidio produk melalui capcut. Selain itu kita juga diajarkan cara menentukan target pasar, memilih waktu upload yang pas, sampai membuat caption dan hashtag supaya konten lebih mudah ditemukan.

Pelatihan foto produk juga jadi salah satu favoritku. Ternyata mengambil foto makanan yang menarik tidak harus memakai kamera mahal. Kami belajar memanfaatkan cahaya matahari, memilih background yang sederhana, mengatur posisi produk, dan mengambil gambar dari beberapa sudut agar hasilnya terlihat lebih profesional. Dari pelatihan ini aku mulai lebih percaya diri menampilkan produk di media sosial dan marketplace. Dan yang paling seru setelah season pemotretan adalah kita makan bareng,tukar menukar produk kita. Suasana semakin hangat dan akrab.

Berkat semua pelatihan dan pendampingan tersebut, saya merasa usahaku semakin berkembang meskipun pemasaran belum yang sampai luas banget. Cara mengelola usaha juga  menjadi lebih rapi, promosi semakin aktif, dan aku semakin percaya diri untuk terus belajar mengembangkan usaha keripik Manggleng agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan. Dari yang biasanya upload foto cuman asal jepret, setelah mendapatkan materi dan praktek langsung seenggaknya pas upload foto sudah memakai sedikit editing serta caption yang pas. Makin tampil menarik kalo di buat story WhatsApp bukan?. 

Kali pertama promosi didepan kamera tv

Kalau mengingat momen ini, saya masih suka senyum sendiri. Siapa sangka, seorang ibu rumah tangga yang dulu nggak pernah paham apa itu shooting, tetiba harus berbicara di depan kamera untuk mempromosikan usaha keripik manggleng di ADiTV, televisi lokal. Rasanya? Deg-degan nya pake  banget. Belum juga mulai ngomong, jantung sudah lari maraton., takut salah ngomong, takut tiba-tiba lupa semua yang ingin disampaikan. Tapi syukurlah, host-nya ramah dan sabar, jadi saya pelan-pelan bisa lebih tenang. Walaupun masih belepotan saat berbicara, saya tetap berusaha menikmati prosesnya.

Buat saya, ini bukan sekadar tampil di televisi. Ini adalah bukti bahwa usaha kecil yang dimulai dari dapur rumah pun bisa mendapat kesempatan untuk dikenal lebih luas. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Real, satu kesempatan seribu rasa syukur.

Di tahun ini penjualan sangat menunjukkan peningkatan yang lumayan dari yang  awal usaha cuman memproduksi 3-5kg singkong,di tahun ini saya mampu memproduksi 30-40kg singkong setiap harinya. 

Drama Google map, singkong dan pepaya 

          Ada momen kocak sekaligus menguras tenaga, yaaaps jawabannya di tanggal 30 Juni 2023.

Sampai sekarang rasanya masih kebayang jelas.

          Waktu itu pesanan sedang banyak-banyaknya, sekitar 9 ball atau kurang lebih 27 kilogram keripik. Sebenarnya pesanan itu sudah masuk jauh-jauh hari. Sayangnya, aku lupa mencatat tanggal pengirimannya dengan benar. Baru sadar kalau jadwal kirimnya ternyata bertepatan dengan momen Hari Raya Idul Adha.

Beberapa hari sebelumnya, stok singkong di beberapa penjual mulai langka. Aku masih berpikir semuanya akan baik-baik saja. Ternyata dugaanku salah. Mendekati hari pengiriman, stok keripik yang harus dikirim masih jauh dari cukup. Rasanya mulai panik. Di kepala cuma ada satu pikiran, "Besok pesanan harus sampai. Gimana caranya?"
         H-2 pengiriman, aku masih belum mendapatkan singkong sebanyak yang dibutuhkan. Akhirnya aku dan adikku memutuskan naik sepeda motor menuju Klaten untuk mengambil singkong langsung dari penjual. Padahal rencananya singkong itu baru akan diantar keesokan harinya.
Tapi aku sudah nggak punya waktu menunggu.
           Kalau menunggu besok, jelas semuanya akan terlambat. Sementara pelanggan sudah menunggu pesanannya.
           Berbekal Google Maps dan modal nekat, kami berangkat. Jujur saja, sebelumnya kami belum pernah ke lokasi itu. Jadi sepanjang perjalanan benar-benar hanya mengikuti petunjuk jalan dari ponsel. Kadang belok kanan, kadang belok kiri, sambil sesekali saling bertanya, "Ini bener nggak ya jalannya?"
Alhamdulillah akhirnya sampai juga.
         Siang itu kami berhasil membawa pulang sekitar 40 kilogram singkong. Aku sudah merasa lega karena akhirnya bahan baku yang ditunggu-tunggu berhasil didapatkan.
Eh... ternyata masih ada cerita lucunya.
          Sebelum pulang, ibu penjual singkong dengan ramah memberikan oleh-oleh untuk kami. Bukan satu atau dua buah, tapi satu kantong pepaya yang isinya sekitar lima buah.
Kami cuma saling pandang lalu senyum.
           Di motor sudah ada singkong 40 kilogram yang harus dibawa pulang. Sekarang masih ditambah satu kresek besar berisi pepaya.
Rasanya ingin tertawa sekaligus bingung.
          Mau ditolak nggak enak karena itu pemberian tulus dari beliau. Mau dibawa... ya ampun, motornya sudah penuh.
          Akhirnya pepaya itu tetap kami bawa. Entah bagaimana cara menyusunnya supaya semuanya muat dan tetap aman selama perjalanan pulang. Kalau diingat sekarang malah jadi lucu sendiri.
Sesampainya di rumah, nggak ada waktu buat istirahat.
           Singkong langsung kami siapkan untuk diproses. Sore menjelang Magrib, pekerjaan dimulai. Mengupas, mengiris, menggoreng, memberi bumbu, sampai mengemas.
Malam itu dapur benar-benar nggak berhenti berasap.
          Satu per satu wajan bekerja tanpa jeda. Badan mulai pegal. Tangan terasa panas karena terus berhadapan dengan minyak. Mata juga mulai berat karena kantuk.
Tapi pekerjaan belum selesai.
Malam berganti dini hari, kami masih terus menggoreng. Total sekitar 40 kilogram singkong harus selesai malam itu juga agar pesanan bisa dikirim tepat waktu.
Jam terus berjalan.
Pukul satu...
Pukul dua...
Sampai akhirnya sekitar setengah tiga pagi, semua pekerjaan selesai.
Rasanya?
Capek sekali.
Bahkan mungkin itu salah satu hari paling melelahkan selama aku menjalankan usaha ini.
        Tapi di balik rasa lelah itu, ada perasaan lega yang luar biasa. Semua pesanan akhirnya selesai dan bisa dikirim sesuai jadwal. Tidak ada pelanggan yang kecewa karena keterlambatan.
         Dari kejadian itu aku belajar banyak hal. Menjalankan usaha ternyata bukan cuma soal membuat produk yang enak. Kadang kita juga harus siap menghadapi keadaan yang sama sekali di luar rencana. Mulai dari bahan baku yang langka, perjalanan dadakan mencari stok, bekerja hampir semalaman, sampai pulang membawa singkong 40 kilogram plus bonus lima buah pepaya di atas motor.
Kalau dipikir-pikir sekarang, momen itu memang melelahkan. Tapi justru cerita-cerita seperti itulah yang membuat perjalanan membangun usaha keripik Manggleng ini terasa begitu berharga. Karena dari setiap tantangan, aku belajar menjadi lebih tangguh, lebih siap menghadapi keadaan, dan semakin yakin bahwa setiap usaha pasti akan selalu punya cerita yang layak untuk dikenang.

Di tengah ikut pelatihan program desa preneur, ketika ada kesempatan pelatihan yg berkaitan dengan pengembangan usaha,saya masih sangat antusias untuk mengikuti diantaranya adalah pelatihan bareng Balai Latihan Kerja (BLK) Yogyakarta selama lima hari. Peserta pelatihan berasal dari dua wilayah, yaitu Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Kalasan.

Kesempatan tersebut saya anggap sebagai kesempatan yang sangat berharga. Sebuah pelatihan yang terbagi menjadi 2 kelompok 

Yaitu kelompok olahan bahan baku lokal dan olahan Frozen. Dan saya masuk di kelompok olahan bahan baku lokal. Selama mengikuti pelatihan, saya memperoleh banyak ilmu baru yang sebelumnya belum pernah saya pelajari.

Materi yang diberikan tidak hanya membahas proses produksi, tetapi juga pengembangan usaha, peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, pelayanan kepada konsumen, serta strategi penambahan menu produk agar usaha semakin maju dan berkembang. Kala itu kami diberi bimbingan serta praktek masak langsung bersama CV fania food yang di owner i oleh Bu Hanny.

Pelatihan tersebut juga mempertemukan saya dengan para pelaku UMKM lain yang memiliki semangat yang sama untuk berkembang. Dari mereka saya belajar bahwa setiap usaha memiliki tantangan yang berbeda, tetapi semua dapat berkembang jika dijalankan dengan kesungguhan, kemauan belajar, dan semangat untuk terus berinovasi.

Usai pelatihan yang dilaksanakan selama 5 hari bukan, hanya membawa sertifikat, tetapi juga membawa semangat baru. Dari pelatihan itu kami dibekali ilmu dan bantuan peralatan diantaranya kompor,blender,mixer,wajan, penjepit gorengan dll. Saya semakin yakin bahwa usaha keripik manggleng yang saya rintis dari dapur sederhana memiliki peluang untuk terus tumbuh apabila terus dibangun dengan ilmu, legalitas yang lengkap, serta kemauan untuk belajar tanpa henti.

Program desa preneur ini masih berlanjut hingga tahun 2025. Banyak bantuan yang disalurkan. Tentu ini sangat bermanfaat untuk UMKM kecil seperti kami. Salah satunya adalah bantuan tentang packaging yang berbentuk standing pouch full print. 

Setiap usaha pasti punya ceritanya masing-masing. Ada masa di mana pesanan datang terus tanpa henti, ada juga masa ketika notifikasi HP terasa lebih sepi dari biasanya. Dan ternyata, usaha saya juga sedang menulis cerita seperti itu.

Saya memulai usaha keripik Manggleng bukan karena semuanya sudah sempurna dan serba ada. Tapi saya memulainya dari banyak belajar, mencoba, dan terus memperbaiki diri. Dan benar,sebuah usaha keripik Manggleng itu bukan sekadar jualan produk, tapi juga belajar sabar, belajar bangkit, dan belajar menerima bahwa perjalanan bisnis tidak selalu lurus ke atas.

Kalau diingat kembali, akhir tahun 2021 sampai akhir tahun 2023 menjadi salah satu masa yang paling berkesan. Alhamdulillah, penjualan terus meningkat. Pesanan datang silih berganti. Ada pelanggan baru, Reseller bertambah serta pelanggan lama yang terus melakukan repeat order. Rasanya senang sekali melihat usaha kecil yang dirintis pelan-pelan mulai dikenal banyak orang.

Saat itu saya juga cukup aktif promosi. Hampir setiap hari membuat story WhatsApp, sesekali upload di media sosial, berbekal dari ilmu yang saya dapat dari beberapa pelatihan. Capek namun sangat bahagia,melihat pesanan terus bertambah membuat saya semakin yakin bahwa usaha ini punya masa depan. Saya mulai punya banyak harapan. Salah satunya membuka lowongan pekerjaan. Alhamdulillah dengan dibantu satu rekan produksi,saya mampu menghandle seluruh pesanan di setiap harinya.Namun, seperti kata banyak orang, roda kehidupan terus berputar. Tidak selamanya perjalanan usaha itu mulus.

Ketika Semangat Mulai Diuji

Memasuki awal tahun 2024, saya merasakan ada perubahan. Pesanan masih ada, pelanggan tetap masih membeli, tetapi jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Awalnya saya berpikir mungkin hanya sedang sepi sementara. Dan saya tetap berusaha menjalankan usaha seperti biasa. Ternyata kondisi itu berlangsung cukup lama, bahkan sampai pertengahan tahun 2025.

Di waktu yang hampir bersamaan, kondisi kesehatan saya juga kurang baik. Saya harus menjalani pengobatan sampai dua kali. Walaupun tidak ingin mengeluh, saya mengakui bahwa kondisi badan sangat mempengaruhi semangat bekerja. Saat badan terasa tidak enak, pikiran juga ikut lelah. Yang paling terasa adalah semangat promosi saya perlahan menghilang.

Dulu rasa nya sangat ringan bila hendak membuat story WhatsApp. Mau foto produk, bikin video singkat, atau sekadar membalas pesan. Tapi waktu itu, membuka kamera saja rasanya malas. Dan selalu berkata dalam hati, "Nanti saja."

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tanpa sadar, saya semakin jarang muncul di media sosial.

 Padahal, bagi pelaku UMKM, promosi itu seperti kita sedang menyapa pelanggan. Ketika kita menghilang terlalu lama, orang akan mengira usaha kita juga ikut berhenti.Dan benar saja.Beberapa pelanggan mulai menghubungi saya dengan pertanyaan yang hampir sama.

"Mbak, masih jualan Manggleng?"

"Masih buka, kan?"

"Saya kira sudah berhenti jualan."

Setiap membaca chat seperti itu. Terselip rasa bingung dan haru. Di satu sisi saya senang karena ternyata mereka masih mengingat usaha saya. Disisi lain saya merasa salah,karena terlalu banyak diam

Entah kenapa saat itu saya kehilangan semangat untuk menunjukkan bahwa usaha ini masih ada.

Padahal dapur produksi masih tetap berjalan. Pesanan tetap saya layani. Keripik Manggleng masih diproduksi seperti biasa. Hanya saja, saya tidak lagi menceritakan proses itu kepada orang-orang.

Kadang saya  berpikir, "Ah, nanti saja postingnya."

Padahal pelanggan tidak bisa membaca isi pikiran kita. Yang mereka lihat hanyalah apa yang muncul di layar HP mereka.Kalau kita menghilang terlalu lama, mereka akan mengira usaha kita sudah selesai.

            Di tengah semangat yang belum benar-benar pulih setelah berbagai tantangan yang saya hadapi, saya merasa perlu mengambil jeda sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengisi kembali energi dan membuka sudut pandang baru. Karena itu, pada bulan Oktober hingga November 2024, saya memutuskan mengikuti pelatihan Barista.

          Banyak orang mengira saya ingin beralih profesi atau membuka kedai kopi. Padahal, tujuan saya sama sekali bukan itu. Saya mengikuti pelatihan tersebut karena rasa penasaran. Saya ingin tahu lebih dalam tentang dunia kopi, bagaimana proses pembuatannya, bagaimana seorang barista bekerja, dan mengapa budaya ngopi begitu berkembang di berbagai kalangan.

          Sejak dulu saya selalu berpikir bahwa kopi dan camilan adalah pasangan yang sulit dipisahkan. Rasanya ada sesuatu yang spesial ketika secangkir kopi hangat dinikmati bersama camilan yang renyah. Dari situlah muncul sebuah mimpi sederhana di dalam hati saya. Suatu hari nanti, saya ingin Keripik Manggleng Two.Fa bisa hadir di meja-meja kafe, menemani setiap cangkir kopi yang disajikan.

          Selama mengikuti pelatihan, saya belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Ternyata menjadi barista bukan hanya soal membuat kopi yang enak. Ada ilmu tentang memilih biji kopi, teknik penyeduhan, cara menjaga kualitas rasa, hingga bagaimana memberikan pengalaman terbaik kepada pelanggan. Semua itu membuat saya semakin menghargai proses di balik secangkir kopi.

          Pelatihan ini juga membuka mata saya bahwa setiap usaha memiliki tantangan dan perjuangannya masing-masing. Saya merasa mendapat banyak inspirasi dari para pelaku usaha kopi yang begitu serius membangun bisnis mereka. Dari sana saya belajar bahwa membangun sebuah produk bukan hanya soal menjual, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman dan cerita bagi pelanggan.

Sayangnya, setelah pelatihan selesai, saya masih dihadapkan pada satu tantangan terbesar, yaitu rasa minder dalam diri sendiri. Sampai hari ini, saya masih belum memiliki keberanian untuk datang ke sebuah kafe dan menawarkan kerja sama. Saya sering bertanya dalam hati, "Apakah produk saya cukup layak? Apakah mereka akan tertarik? Bagaimana kalau ditolak?"

          Rasa takut itu sering kali lebih besar daripada langkah yang ingin saya ambil. Akibatnya, impian untuk melihat Keripik Manggleng Two.Fa menjadi teman minum kopi di sebuah kafe masih sebatas angan-angan. Padahal saya tahu, jika tidak pernah mencoba, saya juga tidak akan pernah tahu jawabannya.

          Namun saya percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri. Mengikuti pelatihan barista mungkin belum langsung menghasilkan kerja sama dengan kafe, tetapi pelatihan itu telah memberikan bekal pengetahuan, wawasan, dan mimpi yang lebih jelas tentang arah bisnis yang ingin saya bangun.

Hari ini saya masih terus belajar membangun rasa percaya diri. Saya ingin suatu saat nanti bisa datang ke sebuah coffee shop tanpa rasa takut, membawa sampel Keripik Manggleng, lalu berkata dengan yakin, "Bagaimana kalau camilan saya menemani secangkir kopi di sini?"

          Saya belum sampai di titik itu, tetapi saya percaya setiap langkah kecil yang saya ambil hari ini sedang mempersiapkan saya menuju impian tersebut. Karena bagi saya, mimpi tidak harus langsung terwujud. Yang terpenting adalah terus berjalan, terus belajar, dan tidak berhenti percaya bahwa suatu hari nanti Keripik Manggleng Two.Fa akan menemukan tempatnya sebagai teman terbaik untuk menikmati secangkir kopi.

Berdasar situasi tersebut ternyata tantangan dalam usaha bukan hanya soal modal, persaingan, atau penjualan. Menjaga semangat diri sendiri juga menjadi tantangan yang tidak kalah besar.

Tak perlu menyalahkan keadaan ataupun menyesali masa sulit, hal yang harus digaris bawahi adalah belajar dari masa lalu dan tentu harus tetap bersyukur. Kesehatan adalah aset yang sangat penting bagi seorang pelaku usaha. Dan konsistensi juga tak kalah penting daripada sesekali semangat lalu menghilang berbulan-bulan.

Hal yang mengharukan serta membuat semangat saya kembali ada adalah ketika pelanggan yang baik tetap menunggu, bahkan sampai rela bertanya apakah saya masih berjualan.

Sekarang saya sedang berusaha membangun semuanya lagi, pelan-pelan.

Mungkin masih mustahil jika langsung seperti tahun 2023. Tapi seenggaknya terselip semangat untuk tumbuh kembali. Ada saatnya berkembang pesat, ada saatnya berjalan lebih lambat. Bahkan kadang terasa seperti sedang diam di tempat. Namun bukan berarti kita harus berhenti.

Selama masih ada kesempatan untuk bangkit, selama masih ada pelanggan yang percaya, selama masih ada semangat untuk mencoba lagi, berarti usaha ini masih punya harapan.

Usaha bukan tentang siapa yang selalu berada di atas. Usaha adalah tentang siapa yang tetap mau bangkit setiap kali kehidupan mengajaknya turun.

Dan untuk semua pelanggan yang masih setia membeli, bertanya kabar, atau sekadar mengirim pesan, "Mbak, masih jualan Manggleng?", terima kasih banyak ya.

Ternyata pertanyaan sederhana itu menjadi pengingat bahwa masih ada orang-orang yang menunggu saya untuk kembali semangat.

Terlewat di masa masa sulit di sepanjang tahun 2024 hingga pertengahan 2025, pelan-pelan saya berpikir,Kalau saya tak boleh larut dalam rasa lelah dan kehilangan semangat terus menerus, usaha ini juga akan ikut diam dan pasif di tempat nantinya. Padahal, dulu saya membangunnya dengan penuh perjuangan. Rasanya sayang sekali kalau hanya karena semangat yang turun, saya membiarkan usaha ini berjalan tanpa arah.

Akhirnya, di penghujung tahun 2025 saya mulai mencoba bangkit dan menata ulang lagi. Bukan dengan langkah yang langsung besar, tapi dari hal-hal sederhana yang dulu pernah saya lakukan.

Saya kembali membuka galeri foto produk, membuka editan capcut yang belum sempat saya ekspor. Mulai jeprat jepret foto lagi ketika memproduksi ataupun sekedar memfoto ketika keripik sudah ready, Kembali membuat story WhatsApp. Awalnya terasa canggung karena sudah lama sekali tidak aktif. Bahkan sempat berpikir, "Masih ada yang lihat nggak ya?"  Tapi saya mencoba menghilangkan rasa ragu itu.

Salah satu hal yang perlu saya tanamkan adalah, kalau ingin usaha ini kembali berkembang, saya juga harus kembali hadir di hadapan pelanggan.

Bersamaan dengan tumbuhnya semangat,saya diberi untuk  kesempatan untuk menjadi narasumber di sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UNY. Dari sini saya di bantu membuat toko online di shopee. Sedikit demi sedikit saya mulai lebih rutin mengunggah aktivitas produksi, foto-foto produk, sampai testimoni pelanggan. Tak harus dalam bentuk konten yang apik, terkadang hanya jepretan foto produk ataupun aktivitas produksi dilengkapi dengan caption singkat.

Apakah hal Ini memberikan dampak yang bagus? Tentu iya,ada yang bilang kalau mereka senang melihat saya mulai aktif lagi di WhatsApp.

Jujur, rasanya seperti mendapat suntikan semangat baru.

Saya jadi semakin yakin bahwa pelanggan sebenarnya tidak pergi. Mereka hanya menunggu saya muncul kembali. Pesanan memang belum seramai masa-masa terbaik di tahun 2023. Tapi saya merasa ada perubahan. Setiap ada notifikasi pesanan masuk, rasanya seperti pengingat bahwa usaha ini masih memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh.

Apapun yang terjadi di masa sekarang tak akan ku jadikan perbandingan dengan masa lalu. Dulu saya sering berpikir, kenapa penjualan menurun? Kenapa tidak bisa stagnan di penjualan yang baik? Makin kesini saya sadar, setiap fase punya waktunya masing-masing.

Terkadang,tanpa mengingat pun kenangan masa sulit itu masih tergambar jelas, Jumlah pengeluaran kebutuhan hidup yang banyak,yang tidak sebanding dengan pendapatan mengharuskan saya untuk menjual beberapa aset perhiasan yang saya punya untuk menutup setiap kebutuhan yang belum mampu tercover dari hasil usaha.

Ku tanam kan semangat penting untuk diriku adalah teruslah bergerak,pasti akan ada hal baik yang akan datang.

Saya mulai menikmati prosesnya lagi. Menyiapkan pesanan dengan hati yang lebih tenang, mengemas keripik dengan rasa syukur, lalu mengantarkannya kepada pelanggan dengan harapan mereka tetap menikmati cita rasa Manggleng seperti biasanya.

Di sisi lain, kondisi kesehatan saya juga mulai membaik. Walaupun masih harus menjaga tubuh agar tidak terlalu lelah, setidaknya saya sudah memiliki energi yang lebih baik dibanding beberapa bulan sebelumnya. Itu membuat saya semakin bersemangat untuk kembali menjalankan usaha.

Bila mengingat masa ini,bagiku masa cukup berat.

Bukan hanya karena omzet yang turun, tapi karena kebutuhan hidup tetap harus berjalan. Pengeluaran rumah tangga tidak ikut menurun hanya karena penjualan sedang sepi. Belanja dapur tetap ada. Tagihan listrik harus di bayar kan. Kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.

Di saat seperti itu, aku benar-benar belajar bahwa menjadi pelaku usaha berarti harus siap menghadapi masa-masa yang tidak pasti.

Sampai akhirnya ada satu keputusan yang cukup berat.

Aku mulai menjual beberapa perhiasan yang dulu kubeli dari hasil usaha keripik manggleng.

Jujur saja, rasanya sedih.

Karena aku tahu betul bagaimana perjuangan mendapatkan semua itu. Sedikit demi sedikit, dari keuntungan usaha yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Tapi disisi lain, aku juga sadar bahwa perhiasan itu memang bisa dicari lagi nanti. Yang lebih penting adalah kebutuhan keluarga tetap terpenuhi dan usahaku tetap bisa bertahan.

Aku mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Mungkin emas itu memang berubah bentuk. Yang tadinya menjadi perhiasan, kini berubah menjadi biaya hidup, menjadi modal bertahan, dan menjadi penyelamat di masa-masa sulit.

Di satu titik, aku seperti banyak berbicara dengan diriku sendiri.

"Sudah cukup."

Sudah cukup rasanya hanya diam dan berharap keadaan akan membaik dengan sendirinya. Sudah cukup hanya menunggu pembeli datang tanpa melakukan sesuatu yang berbeda. Dan yang paling sering terlintas di pikiranku, mau sampai kapan setiap kali ada kebutuhan mendesak aku harus menjual perhiasan yang dulu susah payah kukumpulkan dari hasil usaha ini?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Aku sadar, kalau terus bertahan dengan cara yang sama, hasilnya kemungkinan juga akan tetap sama. Sementara keadaan tidak akan berubah kalau aku sendiri tidak berani berubah.

Akhirnya aku memutuskan untuk bangkit lagi.

Pelan-pelan aku mulai menyusun semangat yang sempat berantakan. Aku kembali belajar melihat usahaku dari berbagai sisi. Ternyata masih banyak yang bisa diperbaiki. Cara promosi harus ditingkatkan. Kemasan harus dibuat lebih menarik. Pencatatan keuangan harus lebih rapi. Cara mengenalkan produk juga tidak boleh hanya mengandalkan pelanggan lama.

Kalau dulu aku sering menunggu pembeli datang, sekarang aku mulai belajar menjemput mereka.

Aku memberanikan diri membuat konten, walaupun awalnya masih malu-malu. Belajar berbicara di depan kamera, walaupun sering salah dan harus mengulang berkali-kali. Mengikuti pelatihan UMKM, berdiskusi dengan mentor, bertemu teman-teman pelaku usaha, sampai membuka diri menerima kritik dan masukan.

Semua itu bukan karena aku sudah hebat.

Justru karena aku sadar masih banyak yang harus dipelajari.

Aku percaya, setiap ilmu baru adalah bekal untuk membuat usahaku bertahan lebih lama.

Aku juga mulai mengubah cara pandangku. Kalau dulu aku melihat tantangan sebagai beban, sekarang aku mencoba melihatnya sebagai pengingat bahwa usaha ini masih punya ruang untuk berkembang.

Perjalanan ini memang belum selesai. Mungkin nanti akan ada tantangan baru lagi. Mungkin jalannya tetap tidak selalu mulus. Tapi sekarang aku tidak ingin hanya menjadi penonton dalam perjalanan usahaku sendiri.

Aku ingin menjadi orang yang terus bergerak, terus belajar, dan terus mencoba.

Karena aku percaya, perekonomian keluarga ini tidak akan pulih hanya dengan harapan. Ia butuh keberanian untuk melangkah, kemauan untuk belajar, dan semangat untuk terus berjuang.

Selama masih diberi kesempatan, aku ingin terus mengupayakan yang terbaik. Aku ingin membuktikan bahwa usaha kecil yang pernah jatuh ini masih punya kesempatan untuk bangkit. Pelan-pelan, selangkah demi selangkah, hingga suatu hari nanti aku bisa melihat kembali Two.Fa berdiri lebih kuat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

Perjalanan ini masih panjang. Masih banyak yang ingin saya pelajari, masih banyak hal yang ingin saya perbaiki, dan masih banyak mimpi yang ingin saya wujudkan bersama usaha keripik Manggleng ini. Karena itu, saya memilih untuk terus melangkah, berdamai dengan keadaan, menikmati setiap prosesnya, sambil membuka lembaran baru yang ternyata mulai menghadirkan cerita-cerita menarik di awal tahun berikutnya.

Langkah baru, semangat baru bersama INBIS 2026

Berada di zona nyaman? Itu sangat menyenangkan tapi tidak di awal tahun 2026 ini, saya ingin belajar lebih banyak agar usaha keripik manggleng yang saya bangun dari rumah bisa berkembang dan naik kelas.

Di bulan Maret, saya coba coba  mendaftar beberapa program pelatihan. Saat itu saya mendaftar ke program dari Pertamina dan juga program Inkubasi Bisnis dari Dinas Koperasi dan UKM. Jujur, saya tidak terlalu berharap. Saya hanya berpikir, kalau rezeki pasti akan ada jalannya.

Hasilnya, saya belum lolos pada program dari Pertamina. Kecewa sih,tapi ya sudahlah belum rejekinya, Tidak berselang lama ada kabar baik datang Saya dinyatakan lolos mengikuti Inkubasi Bisnis Dinas Koperasi setelah melewati proses Business Check Up untuk startup.

Sebelum masuk ke kelas Inkubasi Bisnis (INBIS) 2026, semua peserta mengikuti masa orientasi terlebih dahulu. Awalnya aku mengira orientasi ini hanya sekadar perkenalan, penjelasan jadwal, lalu selesai. Ternyata dugaanku salah. Justru di hari itulah aku mulai menyadari bahwa perjalanan yang akan kulalui tidak akan semudah yang kubayangkan.

Saat pemateri mulai menjelaskan alur program, satu per satu tugas mulai diperkenalkan. Ada tugas administrasi, penyusunan dokumen usaha, laporan, kelengkapan legalitas usaha hingga berbagai target yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Semakin lama mendengarkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. "Apa aku sanggup?" "Bisakah aku mengikuti semuanya?" Rasa minder mulai muncul. Sebagai pelaku UMKM yang masih terus belajar, aku merasa masih memiliki banyak sekali kekurangan.

Perasaan itu semakin bercampur ketika panitia menghadirkan tiga alumni peserta INBIS 2025 untuk berbagi pengalaman. Awalnya aku berpikir cerita mereka justru akan membuatku semakin takut. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Ketiga alumni itu bercerita dengan sangat jujur. Mereka tidak mengatakan bahwa program ini mudah. Mereka bahkan mengakui bahwa mengikuti INBIS memang berat. Waktu istirahat sering berkurang karena harus mengerjakan tugas. Ada kalanya mereka merasa lelah, bingung dan stres. Mendengar pengakuan itu membuatku berpikir, "Berarti rasa takut yang kurasakan saat ini memang wajar dan aku tidak sendirian”.

Namun, di balik cerita tentang beratnya proses, mereka juga menceritakan perubahan besar yang mereka rasakan setelah menyelesaikan program. Mereka menjadi lebih memahami cara mengelola usaha, lebih rapi dalam administrasi, lebih percaya diri dalam mengembangkan bisnis usaha karena mereka dibekali banyak ilmu saat mengikuti program INBIS, sehingga akan lebih terarah bagaimana tujuan usaha. Mereka mengatakan bahwa semua tugas yang diberikan ternyata bukan sekadar untuk memenuhi nilai, tetapi benar-benar dirancang agar pelaku usaha naik kelas.

Salah satu kalimat yang paling membekas di ingatanku adalah ketika mereka mengatakan bahwa selama mengikuti INBIS memang harus rela meluangkan waktu. Waktu untuk belajar, mengerjakan tugas, bahkan mengulang materi yang belum dipahami dan menanyakan kepada mentor pendamping. Tetapi semua waktu yang dikorbankan tidak akan sia-sia karena hasilnya akan kembali kepada usaha yang sedang dibangun.

Mendengar cerita mereka, rasa minder yang sempat memenuhi pikiranku perlahan mulai berubah menjadi semangat. Ya, semua peserta mungkin memulai dengan kemampuan yang berbeda-beda. Tidak semua datang dengan usaha yang sudah besar atau pengalaman yang panjang. Yang paling penting adalah kemauan untuk terus belajar dan tidak takut mencoba.

Orientasi hari itu menjadi pengingat bahwa perjalanan di INBIS 2026 bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang membentuk pola pikir seorang pelaku usaha agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Memang tidak mudah, tetapi setiap proses pasti membawa pelajaran.

Rasa takut bisa menjadi awal untuk mempersiapkan diri lebih baik. Selama terus berusaha, mau belajar, dan tidak mudah menyerah, setiap tantangan yang ada di INBIS 2026 akan menjadi bekal berharga untuk membawa usahaku berkembang lebih jauh.

Saat mengikuti pelatihan, saya benar-benar merasa seperti membuka lembaran baru. Banyak materi yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan, meskipun sudah beberapa kali mengikuti pelatihan UMKM. Di sana saya belajar bagaimana membangun bisnis dengan lebih terarah, mulai dari mengenali kondisi usaha, menetapkan target,menyusun strategi pemasaran, mengelola keuangan, memperkuat branding, hingga mempersiapkan usaha agar mampu dikenal bersaing di pasar yang lebih luas.

3 hari pertama di tahap 1. Dari luar mungkin terlihat seperti pelatihan biasa. Duduk, mendengarkan materi, mencatat, lalu pulang. Tapi kenyataannya, tiga hari itu benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Rasanya seperti "digembleng" habis-habisan.

Materi pertama yang membuatku cukup pusing adalah menghitung HPP (Harga Pokok Produksi). Awalnya aku berpikir, yang penting jualan laku dan masih ada uang sisa berarti sudah untung. Ternyata tidak sesederhana itu. Di INBIS aku baru benar-benar memahami bahwa setiap bungkus produk yang kita jual memiliki biaya yang harus dihitung dengan detail. Mulai dari harga bahan baku, minyak goreng, bumbu, gas, listrik, plastik kemasan, hingga biaya tenaga kerja. Semuanya harus masuk dalam perhitungan.

Dari situ aku mulai sadar, ternyata menentukan harga jual tidak boleh hanya mengikuti harga pasar atau sekadar menambahkan sedikit keuntungan. Kalau HPP tidak dihitung dengan benar, bisa saja selama ini kita merasa mendapat untung, padahal sebenarnya keuntungan yang kita peroleh sangat kecil, bahkan mungkin tanpa sadar justru merugi.

Aku yang belum paham benar tentang perhitungan HPP, kami langsung diajak mengenal BEP (Break Even Point) atau titik impas. Materi ini juga membuka pikiranku. Aku belajar menghitung berapa banyak produk yang harus terjual agar modal yang dikeluarkan bisa kembali. Dengan mengetahui BEP, aku jadi punya gambaran target penjualan yang harus dicapai setiap hari atau setiap bulan. Jadi ketika penjualan sedang sepi, aku bisa mengetahui seberapa jauh kondisi usahaku dari titik impas, bukan hanya mengira-ngira.

Materi berikutnya yang tidak kalah penting adalah keuangan rumah tangga dan keuangan usaha. Selama ini mungkin banyak pelaku UMKM, termasuk aku, yang masih sering mencampur uang usaha dengan uang pribadi. Kalau ada kebutuhan di rumah, ambil dari uang usaha. Kalau usaha butuh tambahan modal, ambil dari uang pribadi. Kelihatannya sepele, tetapi ternyata kebiasaan seperti ini bisa membuat kita sulit mengetahui kondisi usaha yang sebenarnya.

Melalui materi ini aku belajar bahwa uang usaha sebaiknya tetap menjadi uang usaha, sedangkan kebutuhan rumah tangga memiliki anggaran tersendiri. Dengan begitu kita bisa melihat apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru hanya terlihat berjalan karena terus ditambah uang pribadi.

Setelah itu kami juga belajar membuat laporan keuangan usaha sederhana , pendapatan dan pengeluaran harus tertulis jelas. Gong banget rasanya,aku yang jarang menulis dengan detail,kali ini aku harus berusaha lebih rajin lagi. Mencatat semua transaksi dengan terbuka dan rapi.

Belum selesai sampai disitu, kami masih harus menyusun business plan atau rencana bisnis untuk tiga tahun ke depan. Di sinilah aku benar-benar diajak berpikir lebih jauh. Selama ini aku lebih sering fokus pada pertanyaan, "Besok jualan apa ya?" atau "Hari ini dapat pesanan berapa?" Namun melalui business plan, aku belajar memikirkan tujuan yang lebih besar. Mau dibawa kemana usaha ini? Target omzetnya seperti apa? Produk apa yang ingin dikembangkan? Pasar mana yang ingin dijangkau? Semua pertanyaan itu harus dijawab dengan jelas.

Sangat membuka pikiran,semua materi yang diberikan sebenarnya sangat bermanfaat. HPP membantu menentukan harga jual yang tepat. BEP membantu menentukan target penjualan. Laporan keuangan membantu mengetahui kesehatan usaha. Business plan membantu memberikan arah agar usaha tidak berjalan tanpa tujuan. Semuanya saling berkaitan dan menjadi bekal penting untuk mengembangkan usaha.

Masalahnya, semua itu harus kukerjakan menggunakan HP,karena qodarullah h-7 sebelum pelatihan tahap 1, laptop anakku mati total dan untuk pembiayaan service sungguh mahal.

Di sinilah perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Angka-angka yang begitu banyak harus diketik di layar yang ukurannya terbatas. Berkali-kali aku memperbesar layar karena tulisan dan angka terlihat sangat kecil. Kadang saat ingin menggeser tabel, justru salah menekan kolom. Pernah juga rumus yang sudah diketik hilang karena tanpa sengaja terhapus. Rasanya ingin tertawa sekaligus menangis.

Melihat teman-teman lain yang mengerjakan menggunakan laptop, sempat muncul rasa minder. Aku berpikir, "Apa aku bisa menyelesaikan semua tugas ini hanya dengan HP?" Rasanya setiap hari mataku lelah karena terus menatap layar kecil. Tetapi disisi lain, aku juga tidak ingin menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk menyerah.

Sebulan terasa berlalu begitu cepat. Tiba-tiba batas waktu submit tugas pertama sudah di depan mata. Perasaanku benar-benar campur aduk. Ini tugasku sudah komplit belum ya,Jantung rasanya ikut berdebar setiap kali membuka kembali file tugas. Berkali-kali memeriksa angka-angkanya, memastikan tidak ada yang salah hitung. Meski sudah dicek berulang kali, rasa khawatir tetap saja ada.

Mengerjakan pake hp mmg ada keterbatasan,dimana saat mengupload foto,harus dikompres dulu saat mengisi link terkadang juga tidak mau berubah menjadi biru. Alhamdulillah aku dikelilingi orang orang yang baik. Mereka menawarkan sekaligus membantu ku memindah data tugasku ke laptop mereka dg memakai emailku. Akhirnya tombol submit selesai di klik,aku hanya bisa menarik napas panjang. Dalam hati aku berdoa pelan, "Ya Allah, jika memang ini adalah rezekiku untuk belajar lebih jauh, jika memang ini adalah jalan terbaik untuk mengembangkan usahaku, izinkan aku lolos pada eliminasi tahap pertama. Aku tahu masih banyak kekurangan dalam tugas ini, tetapi aku sudah berusaha mengerjakannya semampuku."

Setelah tugas terkirim, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hasil sambil berharap yang terbaik. Apapun hasilnya nanti, pelatihan tahap pertama ini sudah memberiku pelajaran yang sangat berharga. Aku belajar bahwa menjalankan usaha bukan hanya soal membuat produk yang enak atau menjual sebanyak mungkin. Di balik sebuah usaha yang berkembang, ada ilmu, ada perencanaan, ada pencatatan, dan ada keberanian untuk terus belajar meski sering merasa kesulitan.

Dan mungkin, disitulah proses sebenarnya dimulai. Bukan ketika semuanya terasa mudah, tetapi ketika kita tetap memilih bertahan meski berkali-kali merasa kewalahan. Karena setiap tantangan yang berhasil dilewati akan menjadi bekal untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Tahap 2 INBIS: Saat Belajar Bukan Lagi Sekadar Belajar, Tapi Mengubah Cara Berpikir

"Alhamdulillah... aku lolos."

Kalimat itu yang pertama kali keluar saat pengumuman peserta yang lolos ke Tahap 2 INBIS diumumkan. Jujur, aku benar-benar nggak menyangka. Rasanya seperti mengulang momen saat pertama kali dinyatakan lolos menjadi peserta INBIS. Campur aduk. Senang, haru, sekaligus deg-degan.

Di dalam hati aku bertanya-tanya, "Apa aku sanggup ya mengikuti tahap berikutnya?"

Karena aku sadar, kemampuan yang aku miliki masih sangat terbatas. Aku hanyalah seorang pelaku UMKM kecil yang masih terus belajar. Banyak istilah bisnis yang baru pertama kali aku dengar selama mengikuti program ini. Kadang paham, kadang masih harus mengulang berkali-kali supaya benar-benar mengerti.

Tapi di sisi lain, aku juga tahu kalau kesempatan seperti ini nggak datang dua kali. Ini adalah salah satu cita-citaku. Aku ingin usahaku berkembang. Aku ingin belajar lebih banyak. Jadi aku memilih untuk tetap melangkah.

Dengan bekal doa, semangat, dan keyakinan bahwa Allah akan memudahkan setiap langkah yang diniatkan baik, aku memulai perjalanan di Tahap 2.

Dan ternyata... materinya jauh lebih seru sekaligus lebih menantang.

Hari pertama saja kami langsung diberi sebuah challenge yang benar-benar di luar dugaan.

Bukan duduk mendengarkan materi, bukan juga mengerjakan tugas di kelas.

Kami justru diminta menjual produk milik peserta lain secara offline.

Aturannya pun cukup menegangkan. Kami tidak boleh membawa uang, tidak boleh menggunakan handphone, dan diberi batas waktu tertentu. Targetnya sederhana tapi menantang, yaitu mencari margin keuntungan setinggi-tingginya dari hasil penjualan produk tersebut.

Awalnya aku sempat bingung.

"Gimana ya caranya?"

Karena biasanya kalau jualan aku sudah punya pelanggan sendiri. Kali ini benar-benar harus menawarkan produk kepada orang-orang yang bahkan belum mengenal kami.

Ternyata challenge itu bukan sekadar latihan jualan.

Di balik permainan itu, kami belajar banyak hal. Belajar berani memulai percakapan dengan orang asing, belajar menawarkan produk dengan percaya diri, belajar membaca kebutuhan calon pembeli, hingga belajar menentukan strategi supaya produk bisa terjual dengan keuntungan yang maksimal.

Yang paling penting, kami belajar bahwa kemampuan menjual bukan hanya soal produk yang bagus, tetapi juga bagaimana kita membangun komunikasi dengan calon pelanggan.

Alhamdulillah, di luar dugaan aku berhasil meraih peringkat ketiga dalam mencari margin keuntungan tertinggi.

Rasanya senang sekali.

Bukan karena hadiahnya semata, tetapi karena challenge itu membuatku sadar bahwa aku ternyata bisa melampaui rasa takutku sendiri.

Dan bonusnya, aku pulang membawa sebuah tripod light. Hadiah sederhana, tapi sangat bermanfaat untuk mendukung pembuatan konten usahaku nanti.

Masuk hari kedua, suasana belajar mulai lebih serius.

Materi yang diberikan benar-benar membuka pikiranku tentang bagaimana mengembangkan usaha secara lebih terarah.

Salah satu materi yang menurutku sangat penting adalah Content Plan.

Selama ini aku sering membuat konten hanya berdasarkan mood. Kalau lagi semangat ya upload, kalau lagi capek ya berhenti beberapa hari.

Ternyata cara itu kurang efektif.

Lewat materi ini aku belajar menyusun rencana konten jauh-jauh hari. Mulai dari menentukan tema, tujuan konten, jenis video atau foto yang akan dibuat, hingga kapan waktu terbaik untuk dipublikasikan.

Dengan adanya Content Plan, membuat konten terasa jauh lebih ringan karena semuanya sudah dipersiapkan sebelumnya. Tidak perlu lagi bingung setiap hari harus posting apa.

Setelah itu kami juga belajar membuat Action Plan.

Kalau diibaratkan, Action Plan adalah peta perjalanan menuju tujuan bisnis.

Kami diajarkan menentukan target yang jelas, langkah-langkah kecil yang harus dilakukan, siapa yang bertanggung jawab, kapan target harus selesai, hingga bagaimana mengevaluasi hasilnya.

Materi ini membuatku sadar bahwa mimpi besar tidak akan tercapai hanya dengan niat. Semua harus dipecah menjadi pekerjaan kecil yang bisa dilakukan sedikit demi sedikit.

Berikutnya kami belajar membuat sekaligus mengoptimalkan toko online.

Ternyata memiliki toko online bukan hanya soal mengunggah foto produk.

Kami diajarkan bagaimana membuat tampilan toko lebih menarik, menulis deskripsi produk yang jelas, menentukan foto yang mampu menarik perhatian pembeli, hingga melengkapi informasi usaha agar calon pelanggan lebih percaya.

Hal-hal kecil seperti foto yang rapi, deskripsi yang lengkap, hingga respon yang cepat kepada pelanggan ternyata sangat memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli.

Lalu kami kembali membuka Business Plan yang sudah kami buat di Tahap 1.

Ternyata masih banyak yang harus diperbaiki.

Kami belajar menyusun kembali target usaha, mengenali peluang pasar, memperjelas strategi pemasaran, menghitung kebutuhan usaha, hingga menentukan arah bisnis dalam beberapa tahun ke depan.

Aku jadi semakin paham bahwa Business Plan bukan sekadar tugas pelatihan. Dokumen ini adalah kompas yang akan membantu usaha tetap berjalan di jalur yang benar.

Karena membuat satu video saja kadang membutuhkan waktu berjam-jam. Belum lagi proses mengambil gambar, mengedit video, menulis caption, lalu mengunggahnya ke berbagai platform.

Tetapi perlahan aku mulai memahami bahwa media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto.

Bagi pelaku UMKM, media sosial adalah etalase yang buka selama 24 jam. Semakin sering kita hadir, semakin besar peluang produk kita dikenal banyak orang.

Semua tugas itu aku kerjakan semampuku.

Walaupun fasilitas yang kumiliki masih sederhana.

Walaupun kemampuan memahami materi kadang masih tertinggal dibanding teman-teman yang lain.

Aku tetap berusaha menyelesaikannya satu demi satu.

Ada satu materi yang sampai sekarang masih kuingat sebagai tantangan terberat, yaitu saat membuat website.

Ya Allah... rasanya benar-benar ingin menyerah.

Semakin dicoba, justru semakin bingung.

Buka satu menu, muncul menu lain.

Ikuti tutorial, malah tambah pusing.

Beberapa kali aku sampai berpikir, "Apa memang ini bukan bidangku?"

Tapi setelah mengingat kembali alasan kenapa aku mengikuti INBIS, aku memilih untuk tidak berhenti.

Aku percaya, semua orang pernah menjadi pemula.

Kalau hari ini belum bisa, mungkin besok akan sedikit lebih paham.

Kalau hari ini masih bingung, mungkin besok sudah mulai menemukan jalannya.

Perjalanan di Tahap 2 ini mengajarkanku bahwa membangun usaha bukan hanya tentang menghasilkan produk yang enak. Lebih dari itu, aku belajar menyusun strategi, membangun sistem, memahami pemasaran digital, dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Masih banyak yang belum aku kuasai.

Masih banyak yang harus kupelajari.

Tetapi setidaknya sekarang aku tahu satu hal.

Selama masih mau belajar, masih mau mencoba, dan masih mau bangkit setiap kali merasa kesulitan, selalu ada peluang untuk membawa usaha kecil ini tumbuh menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Tahap 3 INBIS: Saat Belajar Makin Serius Demi Membawa Usaha Naik Kelas

Alhamdulillah... kesempatan baik kembali berpihak padaku. Saat pengumuman peserta yang lolos ke Tahap 3 diumumkan, aku benar-benar tidak menyangka namaku masih ada di dalam daftar tersebut. Rasanya campur aduk antara senang, haru, dan sedikit tidak percaya.

Di dalam hati aku berkata, "Masya Allah... ternyata aku masih diberi kesempatan untuk terus belajar."

Bisa sampai di tahap ini benar-benar bukan sesuatu yang aku bayangkan sebelumnya. Aku sadar masih banyak kekurangan yang kumiliki. Bahkan sering kali aku merasa tertinggal dibanding teman-teman peserta lainnya. Tapi mungkin Allah melihat kesungguhanku untuk terus belajar dan berusaha. Keberuntungan seolah kembali menghampiriku.

Masuk ke Tahap 3, suasana belajar terasa jauh lebih serius. Kalau di tahap sebelumnya kami belajar membangun pondasi usaha, sekarang rasanya semua materi mulai "darderdor". Otak benar-benar diajak bekerja lebih keras. Materinya semakin dalam dan semakin dekat dengan kondisi nyata yang harus dihadapi oleh seorang pelaku usaha.

Salah satu materi yang paling banyak menyita pikiranku adalah tentang pengelolaan keuangan. Kalau sebelumnya kami hanya mengenal dasar-dasarnya, kali ini kami benar-benar diajak mengulik laporan keuangan secara lebih detail.

Kami belajar membuat jurnal umum, yaitu mencatat setiap transaksi usaha secara rapi dan berurutan. Dari membeli bahan baku, menerima pembayaran dari pelanggan, hingga mengeluarkan biaya operasional, semuanya harus dicatat dengan benar. Awalnya terlihat sederhana, tetapi ternyata membutuhkan ketelitian yang luar biasa.

Setelah itu, transaksi dari jurnal umum dipindahkan ke buku besar. Di sinilah aku mulai memahami bagaimana setiap akun memiliki catatan sendiri sehingga arus keluar masuk uang usaha bisa terlihat dengan lebih jelas. Materi ini membuatku sadar bahwa usaha kecil sekalipun tetap membutuhkan pencatatan yang rapi agar pemilik usaha tahu kondisi bisnisnya setiap saat.

Pembelajaran kemudian berlanjut ke laporan laba rugi. Jujur, materi ini menjadi salah satu yang paling membuka pikiranku. Selama ini aku sering merasa usaha berjalan baik hanya karena dagangan laku. Padahal belum tentu keuntungan yang didapat benar-benar sesuai jika semua biaya belum dihitung dengan lengkap.

Melalui laporan laba rugi, aku belajar menghitung pendapatan, biaya produksi, biaya operasional, hingga akhirnya mengetahui berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh. Dari sini aku semakin memahami bahwa omzet besar belum tentu berarti untung besar.

Kami juga belajar menyusun neraca, yaitu laporan yang menunjukkan kondisi keuangan usaha secara keseluruhan. Mulai dari aset yang dimiliki, kewajiban atau utang, hingga modal usaha. Awalnya istilah-istilah ini terdengar rumit, tetapi setelah dijelaskan satu per satu, aku mulai mengerti bahwa semua laporan tersebut saling berkaitan dan sangat penting sebagai dasar mengambil keputusan dalam bisnis.

Selain materi keuangan, pembahasan tentang konten dan pemasaran digital juga semakin digencarkan. Kami terus didorong untuk konsisten membuat konten, memperbaiki kualitas foto dan video, menulis caption yang menarik, serta mengoptimalkan berbagai platform media sosial. Bukan sekadar rajin posting, tetapi juga belajar memahami konten seperti apa yang bisa menarik perhatian calon pelanggan.

Targetnya pun jelas, yaitu membantu kami meningkatkan omzet usaha. Karena ternyata pemasaran yang konsisten dan strategi yang tepat bisa membuka peluang datangnya pelanggan baru.

Tahap 3 ini membuatku semakin yakin bahwa menjalankan usaha bukan hanya soal bisa membuat produk yang enak. Di balik setiap produk yang sampai ke tangan pelanggan, ada proses belajar yang panjang, pencatatan keuangan yang rapi, strategi pemasaran yang terus diperbaiki, dan semangat untuk tidak berhenti berkembang.

Jauh dari kata mampu apalagi sempurna. Aku masih sering bingung saat mengerjakan laporan keuangan atau mencoba memahami materi baru. Tetapi satu hal yang selalu kupegang, selama masih diberi kesempatan untuk belajar, aku akan terus mencoba. Karena aku percaya, setiap ilmu yang kupelajari hari ini akan menjadi bekal untuk membuka usaha kecilku tumbuh sedikit demi sedikit menjadi usaha yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan. Yang tak kalah penting pendorong semangat ku adalah kata kata pengingat dari anak, “dulu katanya ibuk pengen kuliah? Naah sekarang keinginan ibuk tercapai,mungkin bukan di bidang materi yang ibuk inginkan dulu, tapi soal rasa pasti sama rumit dan gedebag gedebub nya”. Ya benar,aku termotivasi inilah jawaban doa doaku yang dulu. Dari sinilah semangat dari sisi lain juga muncul,bahwa apa yang kita doakan kelak bila tiba waktunya pasti akan terwujud tentu dalam versi yang terbaik. Seperti doa doaku dalam usaha keripik Manggleng yang aku rintis semoga kelak menjadi usaha yang mampu mengangkat derajat serta memberi manfaat untuk sesama.

Setelah melewati berbagai proses belajar dan mulai memahami bagaimana mengelola usaha dengan lebih baik, saya merasa perjalanan ini masih belum selesai. Masih ada satu pekerjaan rumah yang sejak lama ingin saya selesaikan, yaitu melengkapi legalitasJauh dari kata mampu apalagi sempurna. Aku masih sering bingung saat mengerjakan laporan keuangan atau mencoba memahami materi baru. Tetapi satu hal yang selalu kupegang, selama masih diberi kesempatan untuk belajar, aku akan terus mencoba. Karena aku percaya, setiap ilmu yang kupelajari hari ini akan menjadi bekal untuk membuka usaha kecilku tumbuh sedikit demi sedikit menjadi usaha yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan. Yang tak kalah penting pendorong semangat ku adalah kata kata pengingat dari anak, “dulu katanya ibuk pengen kuliah? Naah sekarang keinginan ibuk tercapai,mungkin bukan di bidang materi yang ibuk inginkan dulu, tapi soal rasa pasti sama rumit dan gedebag gedebub nya”. Ya benar,aku termotivasi inilah jawaban doa doaku yang dulu. Dari sinilah semangat dari sisi lain juga muncul,bahwa apa yang kita doakan kelak bila tiba waktunya pasti akan terwujud tentu dalam versi yang terbaik. Seperti doa doaku dalam usaha keripik Manggleng yang aku rintis semoga kelak menjadi usaha yang mampu mengangkat derajat serta memberi manfaat untuk sesama.

Setelah melewati berbagai proses belajar dan mulai memahami bagaimana mengelola usaha dengan lebih baik, saya merasa perjalanan ini masih belum selesai. Masih ada satu pekerjaan rumah yang sejak lama ingin saya selesaikan, yaitu melengkapi legalitasJauh dari kata mampu apalagi sempurna. Aku masih sering bingung saat mengerjakan laporan keuangan atau mencoba memahami materi baru. Tetapi satu hal yang selalu kupegang, selama masih diberi kesempatan untuk belajar, aku akan terus mencoba. Karena aku percaya, setiap ilmu yang kupelajari hari ini akan menjadi bekal untuk membuka usaha kecilku tumbuh sedikit demi sedikit menjadi usaha yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan. Yang tak kalah penting pendorong semangat ku adalah kata kata pengingat dari anak, “dulu katanya ibuk pengen kuliah? Naah sekarang keinginan ibuk tercapai,mungkin bukan di bidang materi yang ibuk inginkan dulu, tapi soal rasa pasti sama rumit dan gedebag gedebub nya”. Ya benar,aku termotivasi inilah jawaban doa doaku yang dulu. Dari sinilah semangat dari sisi lain juga muncul,bahwa apa yang kita doakan kelak bila tiba waktunya pasti akan terwujud tentu dalam versi yang terbaik. Seperti doa doaku dalam usaha keripik Manggleng yang aku rintis semoga kelak menjadi usaha yang mampu mengangkat derajat serta memberi manfaat untuk sesama.

Setelah melewati berbagai proses belajar dan mulai memahami bagaimana mengelola usaha dengan lebih baik, saya merasa perjalanan ini masih belum selesai. Masih ada satu pekerjaan rumah yang sejak lama ingin saya selesaikan, yaitu melengkapi legalitas

Jauh dari kata mampu apalagi sempurna. Aku masih sering bingung saat mengerjakan laporan keuangan atau mencoba memahami materi baru. Tetapi satu hal yang selalu kupegang, selama masih diberi kesempatan untuk belajar, aku akan terus mencoba. Karena aku percaya, setiap ilmu yang kupelajari hari ini akan menjadi bekal untuk membuka usaha kecilku tumbuh sedikit demi sedikit menjadi usaha yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan. Yang tak kalah penting pendorong semangat ku adalah kata kata pengingat dari anak, “dulu katanya ibuk pengen kuliah? Naah sekarang keinginan ibuk tercapai,mungkin bukan di bidang materi yang ibuk inginkan dulu, tapi soal rasa pasti sama rumit dan gedebag gedebub nya”. Ya benar,aku termotivasi inilah jawaban doa doaku yang dulu. Dari sinilah semangat dari sisi lain juga muncul,bahwa apa yang kita doakan kelak bila tiba waktunya pasti akan terwujud tentu dalam versi yang terbaik. Seperti doa doaku dalam usaha keripik Manggleng yang aku rintis semoga kelak menjadi usaha yang mampu mengangkat derajat serta memberi manfaat untuk sesama.

Setelah melewati berbagai proses belajar dan mulai memahami bagaimana mengelola usaha dengan lebih baik, saya merasa perjalanan ini masih belum selesai. Masih ada satu pekerjaan rumah yang sejak lama ingin saya selesaikan, yaitu melengkapi legalitas usaha

Saya mulai sadar bahwa membangun usaha bukan hanya tentang membuat produk yang enak atau meningkatkan penjualan. Ada banyak hal lain yang juga perlu diperhatikan agar usaha ini bisa terus bertahan dan berkembang, salah satunya adalah legalitas.

       Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengurus kembali PIRT atau Pangan Industri Rumah Tangga. Sebenarnya, saya pernah memiliki PIRT sebelumnya. Namun karena berbagai kondisi dan kesibukan menjalankan usaha seorang diri, saya terlambat melakukan perpanjangan. Akibatnya, selama kurang lebih satu setengah tahun PIRT saya berada dalam masa kedaluwarsa.

       Jujur saja, saat mengetahui PIRT saya sudah tidak berlaku lagi, ada rasa sedih sekaligus menyesal. Saya merasa seharusnya bisa lebih sigap dalam mengurusnya. Tapi daripada terus menyalahkan diri sendiri, saya memilih untuk segera bangkit dan memperbaiki semuanya. Saya percaya tidak ada kata terlambat untuk belajar dan memulai kembali.

         Akhirnya saya mulai mencari informasi tentang proses perpanjangan PIRT. Saya melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan, mengurus dokumen satu per satu, dan mengikuti setiap tahapan yang sudah ditentukan. Walaupun prosesnya cukup panjang, saya menjalaninya dengan penuh semangat karena saya tahu semua ini adalah investasi untuk masa depan usaha saya.

       Salah satu tahapan yang harus saya lalui adalah uji laboratorium terhadap produk Keripik Manggleng yang saya produksi. Produk saya diuji untuk memastikan bahwa makanan yang saya hasilkan aman dikonsumsi dan memenuhi standar keamanan pangan. Saat menunggu hasil laboratorium keluar, jujur saya cukup deg-degan. Walaupun selama ini saya selalu berusaha menjaga kebersihan dan kualitas produksi, tetap saja ada rasa khawatir.

         Alhamdulillah, rasa cemas itu akhirnya berubah menjadi rasa syukur. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa produk saya memenuhi persyaratan. Rasanya seperti mendapatkan energi baru untuk terus menjaga kualitas produk yang saya hasilkan. Saya semakin yakin bahwa menjaga kebersihan dan kualitas sejak awal memang tidak pernah sia-sia.

Perjalanan berikutnya adalah kunjungan dari petugas dinas ke tempat produksi saya. Saat mendapat kabar bahwa akan ada kunjungan, saya kembali merasa gugup. Banyak pertanyaan bermunculan di dalam pikiran. Apakah tempat produksi saya sudah cukup baik? Apakah proses yang saya lakukan selama ini sudah sesuai? Apakah masih ada yang perlu diperbaiki?

       Hari kunjungan pun tiba. Petugas melihat secara langsung kondisi tempat produksi, kebersihan ruangan, penyimpanan bahan baku, proses pengolahan, hingga peralatan yang saya gunakan. Saya bersyukur karena dari kunjungan tersebut saya tidak hanya diperiksa, tetapi juga mendapatkan banyak masukan yang sangat bermanfaat. Saya jadi memahami bahwa menjaga kualitas makanan bukan hanya soal rasa yang enak, tetapi juga bagaimana makanan itu diproduksi dengan aman, bersih, dan bertanggung jawab.

        Beberapa waktu setelah seluruh proses selesai, kabar yang saya tunggu akhirnya datang. Alhamdulillah, PIRT usaha saya resmi diterbitkan kembali. Rasanya benar-benar lega. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya usaha saya kembali memiliki izin resmi yang berlaku selama lima tahun ke depan.

Bagi saya, selembar izin itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar dokumen. Di baliknya ada proses belajar, perjuangan, rasa khawatir, harapan, dan doa yang terus saya panjatkan. Saya merasa semua usaha yang saya lakukan akhirnya membuahkan hasil yang sangat berarti.

Memiliki PIRT juga memberikan banyak manfaat. Dari sisi konsumen, mereka akan merasa lebih yakin karena produk yang mereka beli telah memiliki izin resmi dan diproduksi dengan memperhatikan keamanan pangan. Kepercayaan pelanggan menjadi semakin meningkat karena mereka tahu bahwa produk tersebut telah melalui proses pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi pelaku usaha seperti saya, PIRT juga membuka lebih banyak kesempatan. Produk menjadi lebih mudah diterima di toko oleh-oleh, minimarket, pameran UMKM, maupun berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Selain itu, legalitas ini juga menjadi salah satu syarat untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Bisa dibilang, PIRT menjadi salah satu pintu yang membuka peluang usaha lebih luas.

Tidak berhenti sampai di situ, saya juga mulai mengembangkan sertifikat halal untuk produk saya. Saya ingin usaha ini terus bertumbuh, bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi juga dari sisi kepercayaan pelanggan. Saya mulai mempelajari kembali bahan baku yang digunakan, proses produksi, hingga hal-hal lain yang berkaitan dengan persyaratan sertifikasi halal.

      Saya percaya, ketika sebuah produk memiliki legalitas yang lengkap, pelanggan akan merasa jauh lebih nyaman saat membeli. Mereka tidak hanya membeli karena rasanya enak, tetapi juga karena merasa yakin terhadap kualitas dan keamanan produk tersebut.

        Selain mengurus PIRT dan sertifikat halal, saya juga mulai mengurus legalitas merek melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual atau HKI. Saya merasa nama usaha yang sudah saya bangun selama bertahun-tahun juga perlu mendapatkan perlindungan hukum.

      Nama yang saya daftarkan adalah Royan. Nama itu memiliki banyak cerita dalam perjalanan usaha saya. Bersama nama itulah saya mulai memperkenalkan produk kepada pelanggan, mengikuti berbagai pelatihan, bertemu banyak orang baik, dan perlahan membangun kepercayaan konsumen. Nama Royan sudah menjadi bagian dari perjalanan saya sejak awal merintis usaha.

        Namun, ternyata perjalanan mengurus HKI tidak berjalan semulus yang saya bayangkan. Setelah melalui proses yang ada, saya mendapatkan kabar bahwa merek Royan tidak lolos untuk mendapatkan legalitas HKI.

Jujur, kabar itu membuat hati saya sedih. Ada rasa kecewa karena nama yang sudah begitu lama menemani perjalanan usaha ternyata belum bisa mendapatkan perlindungan hukum. Meski begitu, saya mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Saya percaya bahwa setiap perjalanan pasti memiliki tantangan, dan setiap tantangan selalu membawa pelajaran.

        Saya memilih untuk tidak berhenti hanya karena satu langkah belum berhasil. Justru pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi pelaku usaha berarti harus terus belajar, berani menghadapi perubahan, dan tidak mudah menyerah ketika menemukan jalan yang tidak sesuai harapan.

        Saya yakin, setiap proses yang saya jalani hari ini sedang mempersiapkan langkah-langkah yang lebih baik di masa depan. Karena saya percaya, usaha yang dibangun dengan kesabaran, kemauan untuk belajar, dan semangat untuk terus berkembang akan selalu menemukan jalannya.

       

        Beberapa waktu setelah seluruh proses selesai, kabar yang saya tunggu akhirnya datang. Alhamdulillah, PIRT usaha saya resmi diterbitkan kembali. Rasanya benar-benar lega. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya usaha saya kembali memiliki izin resmi yang berlaku selama lima tahun ke depan.

Saat mengikuti pelatihan, saya benar-benar merasa seperti membuka lembaran baru. Banyak materi yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan, meskipun sudah beberapa kali mengikuti pelatihan UMKM. Di sana saya belajar bagaimana membangun bisnis dengan lebih terarah, mulai dari mengenali kondisi usaha, menetapkan target,menyusun strategi pemasaran, mengelola keuangan, memperkuat branding, hingga mempersiapkan usaha agar mampu di kenal bersaing di pasar yang lebih luas.

Tahap 1,baru di tahap 1 saja kita sudah di godog habis habisan. Mengoreksi tatanan usaha sebelum nya yang sangat berantakan. Misalnya dalam pengelolaan keuangan. Selama ini saya hanya fokus berjualan, tetapi di INBIS saya belajar menghitung HPP (Harga Pokok Produksi), BEP (Break Even Point), hingga pentingnya memisahkan keuangan usaha dengan keuangan keluarga. Dari situ saya mulai sadar bahwa usaha tidak cukup hanya laku, tetapi juga harus benar-benar menghasilkan keuntungan yang terukur.

Kami juga belajar menyusun business plan. Rimit sih,tapi ternyata ini justru sangat membantu. Saya jadi belajar menentukan target usaha, menganalisis peluang, mengenali tantangan, dan menyusun langkah-langkah agar target tersebut bisa tercapai. Semua terasa lebih terarah.

Tapi, ada satu materi yang paling membuat saya berkata, "Wah... ternyata begini ya!" yaitu tentang membuat konten. Dulu saya termasuk orang yang tidak pernah terpikir untuk tampil di depan kamera. Rasanya malu, canggung dan tidak PD, bahkan bingung harus mulai dari mana. Namun selama mengikuti pelatihan, okelah di jalanin aja,toh yang ngeliat belum tentu kenal dengan kita(itu pemikiran yang saya terapkan agar bisa PD di depan kamera) di zaman sekarang konten adalah salah satu cara terbaik untuk memperkenalkan produk. Mau tidak mau, saya harus berani mencoba.

Mengawali mengambil foto produk,membuat video lalu saya edit di capcut yang tidak hanya sekedar di kasih musik tapi juga dituliskan caption, hingga membagikannya di media sosial. Memang belum sempurna, tetapi setiap konten yang dibuat menjadi langkah kecil untuk terus berkembang.

Langkah selanjutnya,aku Mulai giat kembali mengulik legalitas usaha saya. PIRT mulai saya daftarkan kembali untuk perpanjangan. Untuk sertifikat halal saya kembangkan di pengembangan produk dan untuk legalitas merek juga saya daftarkan.

Di perjalanan proses HKI,aku menemukan kendala bahwa merek “Royan” yang selama ini menemani perjalanan usaha saya tidak lolos untuk legalitas HKI 

Lahirnya Two.Fa, Melanjutkan Perjalanan Royan

Perjalanan Royan belum berhenti. Justru dari perjalanan panjang itulah lahir sebuah nama baru, Two.Fa. Saat tulisan ini dibuat, nama Two.Fa masih dalam proses pendaftaran merek di HKI. Saya selalu menyelipkan doa di setiap langkahnya. Semoga proses ini berjalan lancar, sehingga suatu hari nanti nama Two.Fa benar-benar resmi menjadi identitas usaha keripik Manggleng yang saya bangun dengan penuh perjuangan.

Bagi saya, pergantian nama ini bukan sekadar mengganti logo atau tampilan kemasan. Di balik nama Two.Fa tersimpan harapan baru, semangat baru, dan alasan yang selalu membuat saya ingin terus melangkah.

Nama Two.Fa terinspirasi dari nama depan kedua anak saya. Mereka adalah alasan terbesar saya untuk bangkit setiap kali merasa lelah, kecewa, atau hampir menyerah. Saya ingin mereka kelak melihat bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia.

Sebuah usaha bukan hanya tentang mencari keuntungan. Usaha juga bisa menjadi warisan semangat, cerita perjuangan, dan bukti bahwa seorang ibu rumah tangga pun mampu terus belajar dan berkembang. Terselip sebuah harapan,kelak anak anakku lebih hebat dan sukses daripada ibunya.

Kalau ditanya apa mimpi terbesar saya untuk usaha ini, jawabannya sebenarnya sederhana. Saya tidak pernah membayangkan memiliki pabrik yang besar atau gedung yang megah. Yang saya impikan justru sebuah rumah produksi yang hangat, nyaman, dan penuh kehidupan.

Saya membayangkan suatu hari nanti Two.Fa memiliki rumah produksi sendiri. Tempat yang menjadi saksi bagaimana singkong-sigkong pilihan diolah menjadi Keripik Manggleng yang renyah dan penuh cita rasa. Tempat yang bukan hanya dipenuhi suara aktivitas produksi, tetapi juga dipenuhi tawa, obrolan, dan kehangatan dari setiap orang yang datang.

Di samping rumah produksi itu, saya ingin memiliki sebuah gerai kecil. Bukan sekadar toko untuk menjual produk, tetapi tempat yang membuat siapa pun merasa nyaman untuk singgah. Saya ingin orang-orang datang bukan hanya karena ingin membeli keripik, tetapi karena mereka merasa betah berada di sana.

Saya juga bermimpi menghadirkan sebuah kafe kecil yang sederhana. Tidak perlu mewah. Cukup dengan beberapa meja, kursi yang nyaman, suasana yang tenang, dan aroma Keripik Manggleng yang baru selesai dimasak. Saya ingin setiap orang yang datang bisa menikmati camilan sambil berbincang santai bersama keluarga atau teman-temannya.

Karena lokasi kami berada di Yogyakarta yang menjadi tujuan banyak wisatawan, saya juga ingin menyediakan musala yang bersih dan nyaman. Saya membayangkan ada pengendara atau wisatawan yang sedang menempuh perjalanan jauh, kemudian menemukan gerai kami. Mereka bisa beristirahat sejenak, menunaikan salat dengan tenang, menikmati makanan ringan, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih segar.

Bagi saya, usaha bukan hanya soal berjualan. Saya ingin tempat ini bisa memberi manfaat bagi siapa pun yang datang. Walaupun sederhana, saya ingin setiap orang pulang dengan membawa pengalaman yang menyenangkan.

Ada satu konsep yang sejak lama ingin saya wujudkan, yaitu open kitchen. Saya ingin pelanggan bisa melihat langsung bagaimana proses Keripik Manggleng dibuat. Mulai dari singkong yang diolah, proses penggorengan, hingga bumbu yang dicampurkan satu per satu. Saya ingin semuanya dilakukan secara terbuka.

Dengan begitu, pelanggan bisa melihat sendiri bahwa setiap proses dikerjakan dengan bersih, teliti, dan penuh perhatian. Saya percaya, ketika orang melihat langsung bagaimana sebuah makanan dibuat, rasa percaya mereka akan tumbuh dengan sendirinya. Bahkan mungkin mereka bisa menikmati sensasi aroma keripik yang baru matang, yang menurut saya selalu berhasil membuat siapa pun lapar.

Saya membayangkan anak-anak yang datang akan penasaran melihat proses pembuatannya. Orang tua bisa mengajak mereka belajar bahwa makanan tidak muncul begitu saja di rak toko, tetapi ada proses panjang, kerja keras, dan banyak tangan yang terlibat di balik setiap kemasan.

Selain menjadi tempat untuk produk Two.Fa, saya juga ingin gerai ini menjadi rumah bagi UMKM lain. Saya ingin menyediakan ruang khusus untuk menerima titipan produk dari teman-teman UMKM. Saya tahu rasanya berjuang memasarkan produk sendirian. Karena itu, kalau suatu hari nanti Allah memberi saya kesempatan memiliki gerai sendiri, saya ingin berbagi ruang dengan pelaku usaha lainnya.

Saya percaya, kalau kita bisa tumbuh bersama, hasilnya akan jauh lebih indah daripada berjalan sendirian. Gerai itu nantinya bukan hanya berisi Keripik Manggleng, tetapi juga berbagai produk khas dari UMKM yang ada di sekitar. Dengan begitu, pelanggan yang datang memiliki lebih banyak pilihan, sementara pelaku UMKM juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang.

Yang paling saya impikan sebenarnya bukan soal ramainya penjualan. Saya ingin menciptakan suasana. Suasana yang hangat. Suasana yang membuat orang merasa diterima. Tempat di mana pelanggan datang sebagai tamu, tetapi pulang dengan perasaan seperti baru saja berkunjung ke rumah saudara.

Saya ingin menyapa mereka dengan ramah, mendengar cerita mereka, dan mengucapkan terima kasih secara langsung. Hal-hal sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi saya percaya justru itulah yang akan selalu diingat oleh pelanggan.

Harapan saya, siapa pun yang pernah datang ke gerai Two.Fa akan membawa pulang lebih dari sekadar sebungkus Keripik Manggleng. Mereka juga membawa kenangan tentang keramahan, kehangatan, dan pengalaman yang menyenangkan.

Suatu saat nanti, ketika ada orang yang berencana liburan ke Yogyakarta, saya ingin mereka berkata, "Kalau ke Jogja, jangan lupa mampir ke Two.Fa, ya." Bukan hanya karena keripiknya enak, tetapi karena tempatnya nyaman, orang-orangnya ramah, dan suasananya membuat rindu untuk kembali.

Saya sadar, mimpi ini masih panjang jalannya. Masih banyak yang harus saya pelajari, banyak yang harus saya perjuangkan, dan tentu masih banyak doa yang harus saya panjatkan. Tapi saya percaya, setiap usaha besar selalu dimulai dari mimpi yang sederhana.

Semoga suatu hari nanti, rumah produksi kecil yang selama ini hanya ada dalam doa benar-benar berdiri. Menjadi tempat lahirnya Keripik Manggleng Two.Fa, menjadi rumah bagi para pelaku UMKM, menjadi tempat persinggahan bagi para wisatawan, dan menjadi ruang yang penuh kehangatan untuk siapa pun yang datang.

Karena pada akhirnya, impian terbesar saya bukan sekadar memiliki sebuah bangunan. Impian saya adalah membangun sebuah tempat yang menghadirkan manfaat, menciptakan kebersamaan, dan meninggalkan cerita indah bagi setiap orang yang melangkahkan kaki Two.fa

Pesan untuk teman-teman yang sedang berjuang

1. Jangan takut memulai dari hal yang sederhana.

Usaha besar seringkali berawal dari dapur rumah dan langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

2. Teruslah belajar, meski merasa tertinggal.

Tidak ada kata terlambat untuk mempelajari hal baru. 

3. Jadikan keluarga sebagai sumber semangat, dan restu kedua orang tua adalah sumber kekuatan.

Ketika lelah datang, ingatlah alasan mengapa kita memulai semuanya.

4. Percayalah pada proses.

Kesuksesan tidak datang dalam semalam. Nikmati setiap tahap, karena setiap tantangan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Harapan

Saya tidak berharap usaha ini menjadi yang paling besar. Saya hanya ingin Two.Fa terus bertumbuh, semakin dikenal, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.

Jika hari ini saya masih berjalan pelan, suatu saat nanti saya akan sampai. Karena saya yakin, selama masih ada doa, usaha, dan keyakinan, selalu ada harapan yang menunggu di depan.

Terima kasih kepada semua orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Semoga cerita sederhana ini bisa mengingatkan kita bahwa setiap mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil yang tidak pernah berhenti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *